Lima Tahun Gantungkan Hidup di Polder Tawang 0
Rabu, 9 Nov '11 20:11
LANGIT diatas Stasiun Tawang yang memiliki bentuk bangunan kuno itu mulai berwarna gelap. Beberapa lalat nampak beterbangan di atas aneka makanan yang ada di atas gerobak dorong berwarna hijau itu. Tangan perempuan paruh baya itu sesekali menghalaunya dengan kain putih bergaris merah.
Beberapa pembeli seperti tukang becak dan sopir taksi, memilih duduk di bangku panjang yang sudah disediakan. Beberapa pasangan muda-mudi yang datang, lebih memilih duduk di atas tikar sembari menikmati gemerlap lampu yang memantul di atas air kolam.
Di beberapa sudut, tak hanya pasangan muda-mudi yang memilih duduk di atas tembok yang dibuat menyerupai kursi permanen itu. Beberapa lelaki nampak serius bersama temannya mengobrol sambil menghisap rokok dan tidak turut menikmati makanan yang dijual oleh para pedagang yang ada di kawasan itu.
Di sudut lainnya, lima perempuan yang mengenakan celana pendek dan kaos ketat terlihat berkumpul di depan sebuah warung yang sudah ditutup oleh pemiliknya. Sesekali tawa mereka terdengar lepas saat beberapa pengendara sepeda motor maupun mobil membunyikan klakson.
Ya, itulah aktifitas petang menjelang malam di kolam penampungan air yang biasa disebut Polder Tawang. Kawasan seluas kurang lebih 1,3 hektar yang dibangun pada 2000 itu dimaksudkan untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dam dan mengendalikan muka air di dalam Kota Lama.
Polder Tawang memiliki beberapa komponen sistem, yaitu tanggul, pintu air, saluran, kolektor, pompa air dan kolam retensi. Sebelah Utara adalah rel kereta api, sebelah Timur adalah Jalan Ronggowarsito, sebelah Selatan adalah Jalan Petudungan dan sebelah Barat adalah Kali Semarang.
Dan, selama ini, Polder Tawang telah memberikan ruang terbuka bagi publik Semarang. Kolam raksasa yang dikelilingi jalan paving, lengkap dengan tempat duduk yang terbuat dari beton, lampu-lampu taman berarsitektur klasik melengkapi tempat itu. Cukup nyaman, meskipun sesekali indera penciuman terganggu oleh bau-bauan menyengat yang datang dari air kolam.
''Nongkrong di Polder Tawang menjelang malam adalah sebuah kenikmatan. Bermain-main dengan cahaya, menangkap pantulan-pantulannya di permukaan kolam dan mengabadikan atmosfir Kota Lama melalui kamera. Itulah keindahannya,'' tutur Herly (19), mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang yang penghobi fotografi ketika ditanya tentang kawasan itu.
Namun, bagi Ali (25), disamping memiliki keindahan, sebagai pedagang nasi dan gorengan yang biasa membuka dagangannya mulai pukul 18.00 hingga azan Shubuh berkumandang, tempat itu menjadi penopang ekonomi keluarganya selama lima tahun ini.
Rencana PT KAI mengembangkan Polder Tawang untuk dibangun hotel karena lahan eks polder masa kontrak kerja sama antara PT KAI dan Pemkot sudah habis sejak 12 Juli 2010, itupun ia anggap sebagai ancaman bagi dirinya dan masyarakat.
''Tentu aktifitas berdagang saya harus pindah, dan ketika rob, air tidak lagi tertampung di tempat ini. Banjir seperti beberapa tahun lalu di kawasan ini akan kembali terjadi. Tak hanya saya, masyarakat di sini saya kira juga tidak sepakat. Karena banjir akan mengancam kawasan ini,'' tutur pria kelahiran Kabupaten Bogor, Jawa Barat, saat ditemui, kemarin.
Pria empat bersaudara yang memiliki penghasilan rata-rata per hari Rp 50 ribu itu, berharap, rencana pembangunan hotel tidak dilaksanakan. Meski ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak, ketika pembangunan hotel tetap dilaksanakan, asal ia masih dapat berjualan, dengan terpaksa menerimanya.
''Ada lima pedagang yang sudah lama menggantungkan hidupnya di kawasan ini, untuk berjualan makanan dan minuman. Karena pengunjung yang datang di kawasan ini selalu datang tiap malam,'' ujarnya.
Sedikit berbeda dengan Ali, Kasmono (60) tukang becak yang biasa menunggu konsumen di kawasan itu, menilai rencana pembangunan hotel merupakan sebuah kemajuan.
''Kalau dibangun hotel, tentu menjadi kemajuan dalam pembangunan. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, bangunan hotel itu mengurangi keindahan kota lama atau tidak,'' ujar warga Kampung Barutikung RT 8 RW 8 Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara.
Penolakan tegas terkait pembangunan hotel di kawasan itu justru disampaikan Mashuri (56). Warga Kecamatan Genuk itu dengan tegas menolak jika kawasan itu akan dibangun sebuah hotel.
''Tempat ini kan sudah baik, sebagai kawasan untuk melepas lelah, atau berwisata. Lepas dari masalah habis kontrak, saya lebih mendukung Pemerintah Kota Semarang yang tidak menginjinkan kawasan ini dibangun hotel. Kalau perlu, warga dan pemerintah bersama-sama demo ke PT KAI untuk menolak pembangunan hotel,'' tandasnya.
Tag: polder tawang, angkirangan, nasi kucing
Terkait:
-
Keindahan Tugu Muda dan Polder Tawang
Rabu, 27 Jan '10 10:22

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat