Blusuk'an Sore di kota lama Semarang bersama Komunitas Loenpia 2

Jumat, 7 Okt '11 14:25

Kota lama Semarang itu menyimpan beribu cerita, tapi hanya beberapa yang terungkap lebihnya hanya bisa di nikmati dari bangunan bisu yang semakin hancur oleh waktu.
Menapaktilas ruang dan waktu di kota lama semarang memang mengasikkan, walaupun dah berkalikali menjelajahinya tapi tak pernah bosan, selalu ada cerita yang berbeda.
Kali ini kembali ke kota lama semarang yang juga di kenal dengan sebutan oudstad Samarang bersama teman-teman Loenpia.net - komunitas blogger kota Semarang.

Aku bisa dibilang sebagai pendatang baru disini, tapi tak jadi pembatas gerak asal mau mencairkan diri. Rencana explore kota lama ini di namakan 'Blusukan kota lama Semarang' sebagai 'subject' pada milist loenpia.net. Cukup lama warawiri di milist, akhirnya hari sabtu tanggal 1 oktober 2011, eventnya di eksekusi. Penyebaran info kegiatan cukup gencar, melalui fesbuk dan twitter. Dan hasilnya terkumpul sekitar 20an orang dengan minat masing2 untuk bersamasama kita blusukan di kota lama Semarang.

Jam 3 usai shalat Ashar meluncur dari kos, enaknya tinggal di Semarang adalah ga pake macet, jadi Cuma 15 saja dah sampai di taman Srigunting, depan Gereja Blenduk. Terlihat beberapa teman sudah berkumpul, jadi kita salam-salaman dulu. Tak berapa lama satu demi satu mulai memperlihatkan sosoknya. Sambil menunggu yang lainnya berdatangan, kita saling basa-basi.

Baru jam 4 kita beneran mulai dengan berkumpul bersamasama di halaman dalam taman Srigunting yang adem. Acara di buka oleh Pepeng yang kasi sedikit pendahuluan, trus aku kasi gambaran rute perjalanan dan di lanjut oleh pak sukawi yang seorang dosen arsitektur di UNDIP bercerita mengenai gedung-gedung tua di seputaran taman Srigunting, yaitu Gereja Blenduk, Gedung Asuransi, Gedung Marba, Gedung N Speigel, Gedung rumah makan IBC, gedung kertanegara, gedung merahputih di ujung sana (lupa gedung apa..hehehehe). Tiap gedung punya cerita berbeda dan bentuknya yang unik. Hanya beberapa saja yang masih dalam keadaan sangat baik dan masih digunakan. Lainnya menjelang runtuh.

Kita berlanjut menuju jalan Kepondang, di pojok jalan kita bertemu dengan gedung yang dulunya merupakan kantor surat kabar de Locomotif, dan di kiri jalan terdapat beberapa gedung yang megah, diantaranya adalah kantor milik pengusaha gula Oei Tiong Ham, yang ternyata adalah orang terkaya se Asia pada masa itu, sayang bangunan cantik ini sekarang kondisinya mengenaskan, tapi gedung di sebelahnya yang juga adalah milik perusahaannya masih di manfaatkan untuk PT.Rajawali Nusindo.

Terus di sebelahnya ada sebuah bangunan besar dan megah dengan bertuliskan Samarang 1866 di puncaknya, namun gedung dalam kondisi memprihatinkan ini seakan diabiarkan nelangsa di makan waktu, padahal bukti otentiknya sangat berharga sekali, dan sayangnya tidak di temukan data gedung apakah gerangan dahulunya. Dari sedikit info yang kurang berdasar, bangunan ini dahulunya adalah sebuah hotel/asrama, tapi tidak ada yang menguatkan keterangan tersebut.

Di pojok jalan ini kita tiba di pasar ayam, pojok yang kumuh dengan ayam2, sehingga sekitarnya pun menjadi kumuh. Bukan hanya kumuh, kesannya pun menjadi agak 'seram' untuk pengunjung yang mau menikmati keindahan kota lama, padahal di pojokan itu bentuk bangunannya unik, sudut bangunannya di sesuaikan dengan sudut jalan sehingga tidak menyempit di perempatannya. Selain itu, di pojok bangunan itu banyak pohon2 beringin yang menggelantung, jadi kalo katanya pak sukawi seperti taman gantung, hahahahahaa....

Melanjutkan perjalanan hingga di ujung jalan, kita menemukan bangunan dengan tulisan anno 1912 yang artinya tahun 1912 tahun jadi bangunan tersebut, dan di sisi lainnya terdapat lambang kota semarang dan surabaya pada jaman dahulu. Bangunan ini persis dengan yang terdapat di OudBatavia, dengan juga memiliki lambang kota, Semarang-Surabaya-Batavia. Di Jakarta gedung tersebut teridentifikasi sebagai bangunan Gedung Escompto Bank, tapi sayang di Semarang gedung ini tidak teridentifikasi.

Akhirnya tiba di jalan utama di muka Kali Semarang, dimana kita menemukan bangunan yang baru saja rubuh salah satu menaranya, di makan oleh pohon beringin serakah yang bertengger angkuh. Sebuah bangunan milik perusahaan Perkebunan XV yang memiliki sejarah yang berhubungan dengan tanam paksa di jawa 'cultuur stensel' dalam kondisi yang mengenaskan, tak terawat.

Meneruskan perjalanan kita menuju Jembatan Mberok, gerbang masuk kota lama semarang. Banyak yang bisa di ceritakan disini. Mengenai benteng yang mengelilingi kota lama, nama jembatan yang dahulunya bernama governementburg, lalu berubah menjadi societebrug hingga menjadi mberok akibat salah pelafalan dialeg penduduk lokal saat mendengan para nadherlander menyebutkan 'burg' yang artinya jembatan.

Semakin sore sepertinya semangat ga semakin luntur tapi makin bersemangat, yang hobi poto dan di poto pun semakin menunjukkan minat dan bakatnya, setiap sudut kota tak lepas dari jepret sana jepret sini. Kadang narasumbernya kemana pesertanya kemana, hehehehe...tapi memang disitu asiknya. Dari Jembatan Mberok kita berbelok di gedung pelni menuju polder Tawang.

Di Polder Tawang ternyata kita dah ditunggu sebuah televisi swasta lokal, TV B namanya, jadilah aktifitas kita di shooting, asiik....sementara sesi wawancara berlangsung beberapa teman melanjutkan dengan poto-poto dan sambil menunggu, kita buka websitenya semarang.nl untuk melihat peta dan ceria kota lama semarang versi belanda, dengan arsip mereka yang sangat lengkap untuk kota lama semarang. Disini kita bisa melihat bentuk benteng fivhoek yang mengelilingi kota lama pada tahun 1746, di mana saja batasannya saat itu. Beberapa teman kembali menggerombol untuk mendapatkan ceritanya (beruntung dah belajar siang tadi, jadi bisa sedikit membantu untuk bercerita).

Maghrib menjelang dan kita shalat maghrib dulu di stasiun Tawang. Usai Shalat beberapa dari kita ke Stasiun Tawang untuk mendengar sedikit cerita mengenai Sejarah Stasiun Tawang dari mas Agung, dan selain sejarahnya ornamen arsitekturnya masih asli lho, bahkan di pojokan stasiun dan di kaca patrinya masih bisa ditemukan lambang NIS -Nedherland Indiische Spoorweg Mastchappij' - perusahaan kereta api yang membangun Stasiun Tawang dan LawangSewu.

Kembali ke Gereja Blenduk, hari sudah gelap. Acarapun sudah rampung. Senangnya bisa berbagi cerita mengenai kota lama semarang, walau belum semuanya terbedah, masih ada gedung MGM Marabunta, komplek gereja Gedangan, dan lainnya. Mungkin lain kali kita bisa bikin acara serupa dengan tema2 yang lebih fokus, misalnya eksplore pecinan, gerejagereja tua dan Masjid tua di Semarang.

Terimakasih untuk teman2 Loenpia.net, dan semua peserta blusukan kota lama Semarang, dan juga terimakasih pak Sukawi untuk sharing pengetahuan mengenai gedung tua di Kota Lama Semarang.

-vi-

#poto di donlot dari poto yang beredar di fesbuk, milik endang dwiyanti#


Tag: Semarang, wisata semarang, sejarah semarang, kota lama

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maknyos 0 0
hiks nyesel ngga bisa ikodddd, next time harus ikod!
nawakuci 0 0
kok kopril ga ketok kui

Silahkan login untuk memberikan pendapat