Pesantren dan Kelas Unggulan 0

Selasa, 20 Sep '11 11:56

 

Masih saat sawalan beberapa waktu lalu, Guru ngaji anak-anak bertandang ke rumah untuk berhalal bi halal. Karena sudah lama tak ketemu maka pembicaraan ngalor ngidul kemana-mana, dari masalah harga-harga di pasar, soal politik sampai ke  dunia pendidikkan.

Keempat putra-putrinya saat ini belajar di Kudus, di Pesantren yang terkenal disana. Semua putra-putrinya dapat mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan  salah seorang putrinya sekarang masuk di kelas unggulan.  Diceritakan begitu hebatnya kelas unggulan tersebut dimana para murid mendapatkan perlakuan yang lebih dibanding siswa lainnya,  menyebabkan banyak orang tua murid yang merasa  putra-putrinya yang juga pandai dan tergolong kaya raya, meminta ijin untuk membangun kelas baru dengan biaya sendiri agar putra-putrinya bisa juga dimasukkan ke dalam kelas Unggulan.

Saya betul-betul takjub mendengar cerita ini, tidak terbayang sama sekali betapa pendidikkan di pesantren sudah terkontaminasi dengan pendidikkan formal yang mengunggulkan kecerdasan dan kepandaian siswa semata-mata. Begitu besarnya penghargaan mereka kepada anak-anak pandai dan cerdas, sampai-sampai mereka dikumpulkan menjadi satu agar dapat diasah semakin berkilau.

Saya jadi teringat dengan seorang teman yang karena pandainya, putra satu-satunya bisa masuk kelas akselerasi saat duduk di bangku SMP dan SMU, 2 tahun waktu yang dapat disingkat itu memang sangat menguntungkan karena dalam usia muda sudah bisa masuk perguruan tinggi, namun masalah yang dihadapinya juga sangat mengerikan, sebab sang anak tumbuh menjadi anak yang acuh terhadap lingkungan, ingin menang sendiri, tidak memiliki ras empaty terhadap lingkungan dan macam-mcam masalah psycologis lainnya.

Anak-anak yang pandai tersebut ibarat buah yang dipaksa tua  sebelum waktunya, mereka pandai tapi tidak memiliki kemampuan dan kecerdasan emosi yang sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Sebab pengambilan keputusan yang besar diperlukan kecerdasan emosi yang matang agar terhindar dari hal-hal yang kurang sehat.

Kepandaian dan kecerdasan memang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, namun kemampuan manajerial dan memimpin, kemampuan melakukan komunikasi dan memotivasi serta kecerdasan sosial dan emosi  lebih dibutuhkan untuk menjadi pemimpin. Alangkah lucunya jika anak-anak cerdas itu nantinya hanya akan menjadi anak buah dari teman mereka yang saat sekolah hanyalah murid yang biasa-biasa saja, yang saat sekolah dulu adalah anak bandel suka bolos dan menjadi pimpinan geng ndugal.

Anak-anak yang sudah sejak kecil dipaksa untuk menjadi JUARA, pandai dan cerdas, sering dilarang bermain dengan teman, terutama teman-teman yang "dianggap" nakal, bodoh, anak kampung dan berbagai macam cap negative lainnya,  atau mereka dilarang melakukan kegiatan sosial yang sering dianggap buang-buang waktu saja. Anak-anak Unggulan yang selalu berkutat dengan belajar dan segala macam les biasanya tumbuh menjadi anak yang egois, merasa istimewa dan selalu harus diperlakukan istimewa. Mereka tumbuh menjadi anak sombong yang kesepian.

Yang menjadi keprihatinan saya adalah kekeliruan ini diadopsi dengan bangga oleh dunia pesantren. Saya jadi kawatir nantinya Islam bukan lagi menjadi Rahmat bagi semua manusia. Mestinya yang pandai bisa bergabung dengan teman-teman yang kurang pandai, menjadi tutor bagi mereka, sehingga semua anak akan pandai bersama-sama, minimal kepandaian mereka menjadi tidak terlalu lebar bedanya agar nantinya mereka bisa membangun Indonesia menjadi lebih baik dengan keadilan dan kebahagiaan yang merata. Justru bukan mengkotak-kotakkan menjadi yang Istimewa dan yang biasa saja, pengkotak-kotakkan ini memberikan kontribusi mengapa anak-anak sekarang menjadi kurang ramah terhadap lingkungannya, kondisi ini juga yang mendorong para orang tua untuk berlomba-lomba memasukkan anak mereka ke kelas unggulan, kalau perlu bayar berapapun juga mau, ini menjadi kontribusi awal untuk melakukan tindak korupsi.

Saat ini  kita harus mampu mensikapi dengan benar masalah yang terjadi di lungkungan kita, yang kelihatannya baik belum tentu memang baik, yang kelihatannya biasa saja belum tentu tidak istimewa. Semua anak di dunia ini nantinya menjadi penerus generasi yang akan datang, penghargaan kepada mereka sebaiknya diberikan dengan adil dan bijaksana, tidak hanya yang pinter dan cerdas, tapi yang suka menolong, yang ramah terhadap lingkungan yang memiliki talenta dibidang music atau olah raga, mereka juga pantas kita beri penghargaan sebagai mana mestinya. Anak-anak harus mampu bekerja sama dengan sesamanya tanpa merasa minder satu dengan yang lainnya, apapun keadaan mereka, sebab dengan saling tolong menolong mereka akan memiliki kekuatan yang mampu menghadapi segala kesulitan.

Semoga apa yang menjadi kekawatiran saya ini salah, sebab kalau benar saya hanya bisa berucap Masyaallah.

 


Tag: kecerdasan, kedewasaan emosi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat