Perajin Rebana dari Pongangan, Gunungpati 1

Selasa, 20 Sep '11 21:13

Selain sebagai alat musik tradisional yang kerap digunakan dalam pelbagai acara keagamaan, aneka macam rebana yang memiliki nilai seni tinggi juga menjadi aksesori dan suvenir. Perajin aneka macam rebana dan bedug beragam ukuran di Kelurahan Pongangan, Kecamatan Gunungpati itu tak hanya melayani pemesan dari wilayah Jawa Tengah saja, rebana hasil produksinya itu kini telah terbang hingga Riau dan Papua. Bagaimana kisahnya? Berikut laporannya.

TERIKNYA mentari siang adalah saat yang paling ditunggu lelaki paruh baya itu. Satu persatu bulatan-bulatan kayu beragam bentuk dan ukuran ia keluarkan dari dalam rumah. Meski pelataran itu tanahnya tidak rata, belasan bulatan kayu yang sisi atasnya telah dipasang kulit binatang itu terlihat rapi berjajar.
Lelaki bertubuh tinggi bernama Syahroni (58) warga Kelurahan Pongangan RT 2 RW 1 Kecamatan Gunungpati itu menjalankan usaha sebagai perajin rebana, tambur, remo, konga, kendang, balasik dan marawis secara turun temurun dari kakek dan ayahnya, H Salwadi Putra yang tinggal di Jalan Betengan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak.

''Sebelum menggeluti usaha ini secara serius, saya pernah bekerja di Departemen Agama sebagai tenaga honorer dan hampir menjadi PNS di Pemerintah Kabupaten Demak, karena sudah berstatus calon alias capeg,'' tuturnya mengawali perbincangan, saat ditemui di kediamannya, Senin (19/9).

Pada 1973-1974, suami dari Muhimmatun (41) itu mengaku hanya menerima honor Rp 7.000 per bulan. Karena merasa dengan honor sebesar itu tidak cukup untuk meembeli kebutuhan, bapak dua anak itupun beralih pekerjaan menjadi sopir.

''Ditengah beraktifitas sebagai sopir, adik saya mengajak untuk meneruskan usaha yang selama ini dilakukan oleh ayah, yakni membuat rebana dan bedug,'' jelasnya.
Usaha yang digeluti lebih serius itu kini tak hanya memproduksi rebana dan bedug saja. Puluhan tambur, remo, dram, konga, ketipung, balasik hingga marawis kini telah terjual di seluruh penjuru kota dan kabupaten di Jawa Tengah, Riau, Batam, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Untuk satu set rebana yang terdiri dari empat genjring, tiga ketiplak dan tiga gendang bas itu dipatok harga mulai Rp 4,3 juta. Untuk bedug dengan diameter 100 sentimeter lengkap dengan kentongan, dipatok Rp 15 juta. Bedug berdiameter 120 sentimeter harganya Rp 25 juta, dan berdiameter 130 sentimeter harganya mencapai Rp 30 juta termasuk kentongan dan tiang penyangga.

''Kalau remo satu set, harganya Rp 1,6 juta, konga Rp 2 juta, dan tambur yang biasanya untuk pengiring kesenian barongsai harganya kurang lebih Rp 5 juta,'' jelasnya.
Rata-rata, waktu yang dibutuhkan untuk membuat seperangkat rebana, maupun bedug memakan waktu maksimal 20 hari. Pemilihan kayu mahoni dan nangka, serta kulit kambing dan kerbau yang berkualitas, menurut Syahroni, dilakukan untuk menjaga hasil dan produknya digemari konsumen. Bahkan, usai proses pemasangan kulit, sebelum berbunyi ''ting'', konsumen yang ingin segera mengambil pesanannyapun tidak diperkenankan.

''Proses pengeringan, kemudian dibasuh lagi dengan air, kemudian dipress, itu kita lakukan berkali-kali hingga dapat menghasilkan suara yang mantap dan rebana menjadi tahan lama,'' tandas Syahroni yang memajang nama ayahnya sebagai merek usahanya itu, kemarin.

Sebelum memulai membuat alat musik itu, Syahroni mengaku tidak melakukan ritual jawa seperti yang dilakukan oleh pendahulunya. Ia hanya cukup memanjatkan doa dan meminta hanya kepada Allah SWT.

Kesabaran dan mampu menahan emosi, menjadi syarat wajib bagi laki-laki tiga bersaudara ini dalam menjalankan usahanya. Bahkan semakin lama proses pengerjaan, akan semakin bagus produk yang dihasilkannya itu.

''Selama ini untuk mengembangkan usaha yang menjadi kendala adalah permodalan. Saya berharap, Pemerintah Kota Semarang memberi perhatian khususnya permodalan,'' harapnya. (*)


Tag: Gunungpati, rebana, pongangan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maknyos 1 suka | 0
profesi yang langka dan perlu di lestarikan agar rebana dkk tetap bisa di nikmati anak dan cucu kelak

Silahkan login untuk memberikan pendapat