Bertemunya wayang kontemporer dan Chamber Music Klasik 0

Sabtu, 20 Agu '11 12:27

Pertunjukan seni perpaduan barat dan timur berupa wayang kontemporer kolaborasi dengan iringan musik oleh Ensemble Dutch Chamber Music Company (DCMC) dengan konduktor Arian Tien dan Belanda bisa di bilang langka, tapi kali ini dalam rangka menyambut kemerdekaan RI ke-66, ada sebuah pertunjukan menarik yang digelar oleh keduataan besar Belanda dan pertunjukan unik inii di gelar di beberapa kota, termasuk di kota Semarang.

Saya berkesempatan untuk menonton pertunjukan dalam rangkaian acara bertanjuk Histoire du soldat, pada tanggal 17 agustus 2011 di gedung pertunjukan seni RRI, kota Semarang.

Tepat jam 8, seluruh undangan memenuhi ruang auditorium RRI dan dimulai dengan sambutan ringan dari penyelenggara, acara di mulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya yang di nyanyikan oleh seluruh hadirin di iringi ileh Ensemble Dutch Chamber Music Company...wiiih..bikin merinding deh, dah lama ga nyanyi lagu Indonesia Raya dengan Khidmat, apalagi kali ini di iringi langsung sebuh chamber music company dari negara yang pernah menjajah Indonesia.

Pertunjukan pertama adalah sebuah wayang kontemporer berjudul 'Burung BulBul' yang di adaptasi dari cerita anak karya Hans Andersen berjudul Nightingle. Di dalangi dengan apik oleh Slamet Gunduno, pertunjukan wayang dengan iringan DCMC menjadi begitu menarik.
Berkisah mengenai seekor burung Bulbul yang menarik hati kaisar China, yang rela melakukan apapun untuk bertemu dan mendengarkan nyanyian burung bulbul yang sangat merdu hingga mengakibatkan sang Kaisar jatuh sakit.

Kisah yang berakhir happy ending dengan kesehatan dan pertemuan sang Kaisar dengan Burung Bulbul ini menjadi penutup dari pertunjukan pertama pementasan kali ini.

Menuju pertunjukan kedua, terdapat break sekitar 15 menit, dan kesempatan ini jadi ajang yang ramai untuk kita saling santai dan silaturahmi dengan beberapa teman yang pada saat itu juga hadir. Saat itu kami beruntung mendapatkan 15 tiket dan kami datang beramai-ramai dengan mengenakan Batik, jadi kompak :)

Usai 15 menit kami kembali ke tempat kami semula untuk menyaksikan pertunjukan berikutnya yang merupakan acara puncak dari rangkaian pertunjukan ini. Yaitu pertunjukan seni kontemporer dengan iringan chamber music klasik berjudul L'Histoire du Soldat, yang di terjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Mau Ketemu Setan".
bercerita mengenai seorang serdadu yang tergiur untuk menjadi kaya dengang menggadaikan biolanya kepada setan, sehingga harus bertarung melawan setan untuk kembali mendapatkan kebahagiaan hidupnya.

Pertunjukan berupa story telling dengan latar gerak dan tari ini, menjadi unik. Jujur baru pertama kali saya menyaksikan pertunjukan seperti ini, rada ga mudeng, tapi tetap bisa menikmati karena memang pertunjukannya bagus sekali. Terdapat 3 penari latar yang mengiringi pembaca cerita/narator Jamaludin Lati. Para penarinya adalah Sri Qadariatin, Eko Supriyanto dan Martinus Miroto dengan kareografer Gerard Mosterd.

Pertunjukan selama hampir 2 jam ini berlangsung sangat menarik.
Sebuah persembahan yang cantik untuk menyambut kemerdekaan RI ke 66. bravo untuk kedutaan besar Belanda dan Widya Mitra.

Info selengkapnya di ambil dari Widya Mitra, pusat budaya dan bahasa Belanda, semarang.

-vi-

 


Tag: wayang, widya mitra

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat