Semarangku Sayang 0

Senin, 27 Jun '11 22:36

Bukan maksud saya untuk melecehkan Semarang. Bukan pula pengen menomorsekiankan kota ini. Namun apa daya, ternyata kota ini masih belum begitu menarik bagi para pendatang. Jangankan pendatang, orang jualan pun kayak males mampir ke Semarang. Ah, masa iya sih?

Sekian tahun yang lalu saya sempat penasaran, kenapa setiap ada acara besar yang digelar di banyak kota, Semarang hampir selalu dilewatkan. Seperti misalnya audisi, gelaran pentas seni, road show, dan sebagainya. Kota di Jawa yang dipilih cuma Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya. Semarang dilewatkan !!!

Namun setelah waktu berlalu, masih belum ada perubahan, saya pun tahu jawabannya. Orang Semarang pelit ! Hah, sebegitunya kah? Perasaan gak gitu-gitu amat, deh.

Ada seorang teman yang punya sohib seorang Event Organizer alias EO. Dia bercerita, kenapa sang EO selalu melewatkan Semarang. Jawabannya singkat : karena orang Semarang paling males disuruh tepuk tangan. Gila gak tuh? Yah, mungkin itu sekedar gambaran, bagaimana orang Semarang sulit untuk diajak kompromi.

Satu hal lagi, orang Semarang paling pelit kalo urusan beli barang, atau paling seneng beli barang diskonan. Yang lebih parah lagi, udahlah barang itu didiskon, masih ditawar, minta bonus lagi. Sori, ini bukan pendapat pribadi, melainkan kesimpulan dari beberapa orang pelaku usaha, yang membuka usaha di Semarang.

Kalo pengen lebih jelas, tengoklah sebuah spanduk atau baliho sebuah toko jeans. Bunyinya sederhana "Harga Rp 380.000 diskon 80% atau harga Rp 64.000 tanpa diskon pilih mana?". Secara tidak langsung tulisan tersebut menyentil perilaku masyarakat Semarang yang doyan banget makan diskon.

Yang lebih parah lagi, swalayan besar bisa bangkrut di Semarang. Kalo Mickey Mouse tidak pantas disebut, masih ada dua yang lainnya, Matahari Pasar Johar dan Ramayana Simpang Lima. Aneh aja ngeliat Semarang dengan penduduk yang kayaknya hobi belanja, mampu "membangkrutkan" dua swalayan besar.

Saya rasa agak gak pantes, bila kita berharap kemajuan bagi kota Semarang, sementara diri kita sendiri tidak berupaya ke arah tersebut. Setidaknya, marilah kita mulai mengubah karakter negatif kita - dimana kita warga Semarang terlanjur dicap sebagai masyarakat yang pelit, hanya doyan barang baru, dan doyan banget diskon besar. Padahal belum tentu barang diskon tersebut lebih bagus mutunya.

Sudah jadi rahasia umum, ketika sebuah toko akan menaikkan harga suatu barang beberapa kali lipat, sebelum kemudian didiskon untuk kita nikmati. Suatu pembodohan yang HARUSNYA tidak kita lestarikan.

 


Tag: Semarang, pelit, diskon, swalayan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat