Pesona Malam Waroeng Semawis 3
Rabu, 22 Jun '11 06:26
Waroeng Semawis, nama yang tentu tak asing lagi di telinga warga Semarang. Namun saya yakin, sangat banyak warga Semarang yang belum pernah mengunjunginya. Saya pun, kalau tidak karena tugas, belum tentu sudah sampai ke sana. He..he.. kasihan saya ya... (ah, gak juga tuh). Maklum, Waroeng Semawis hanya beroperasi di hari Jumat, Sabtu dan Minggu pada malam hari. Sementara saya, bukan termasuk makhluk malam. Klop kan?
Pertama kali memasuki area Waroeng Semawis, terbayang adanya pasar malam yang acap digelar di berbagai tempat. Banyak penjual makanan, pakaian, musik yang menghentak, hiburan dan permainan, dan sebagainya. Termasuk kepadatannya, penuh sesaknya pengunjung yang hampir-hampir menyebabkan pengunjung tidak bisa melangkahkan kakinya.
Ternyata saya salah. Memang banyak penjual, terutama makanan. Namanya juga WAROENG Semawis. Tapi kepadatan pengunjung yang sempat tergambar di benak, musnah seketika. Banyak orang berjalan-jalan dengan nyaman, sambil menikmati cerahnya langit malam. Pedagang makanan berjajar rapi di sisi utara jalan, sedangkan di sisi selatan meja-meja makan telah tertata dengan apiknya.
Yang menarik, ada juga stan karaoke. Karena yang banyak mengunjungi adalah warga Tionghoa, maka lagu yang dinyanyikan pun juga kebanyakan lagu Cina. Ternyata enak juga dengerinnya ...
Namun karena terbatas tugas jualah, saya tidak menyelesaikan kunjungan hingga ke ujung jalan. Berhubung perut keroncongan, saya menympatkan diri singgah di warung nasi pecel. Sebagai Muslim, tentu saya pilih makanan yang nyata halalnya. Saya juga sempat salah duga dengan hal ini. Saya pikir, makanan yang dijajakan di sana tidak bisa dinikmati oleh seorang Muslim.
Sebelumnya saya diberitahu oleh Manajer Waroeng Semawis, bahwa ada warung yang menjajakan makanan halal. "Kalau yang ada babinya, pasti dituliskan di layar. Yang dilayarnya tidak tertulis babi, saya pastikan makanannya halal," ujarnya. So, mantaplah saya.
Sambil menyantap pecel yang telah tersaji, saya mencoba lebih menikmati suasana malam tersebut. Orang berlalu lalang dengan santainya. Tidak hanya etnis Tionghoa, orang pribumi dan mancanegara pun ada. Terdengar pula suara orang yang berkaraoke, karena memang jarak tenda yang tidak terlalu jauh. Apalagi cuaca malam itu sangat cerah. Betul-betul suasana malam yang pantas untuk dinikmati.
Pecel yang ada di pincuk daun, tidak buru-buru saya habiskan. Betul-betul suatu perpaduan yang sempurna, setidaknya menurut saya, antara cerahnya malam, nasi pecel, orang berlalu lalang dan karaoke lagu Cina. Karena sangat mungkin saya tidak akan kembali lagi ke sana. (hiks, bukan karena saya nggak mau, tapi karena saya bukan tipe "makhluk malam").
Pikiran saya pun melayang, menuju ke sebuah negeri antah berantah dengan kedamaian yang terselip didalamnya.
Foto di pinjam dari sini
Tag: jajanan, waroeng semawis, pasar malam, warung, karaoke
Terkait:
-
Menikmati Ceker Presto di Indraprasta
Senin, 2 Agu '10 06:49

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat