Semarangku Nan Hijau Bersama Dulux 2

Kamis, 2 Jun '11 14:41

Melihat Kota Semarang menjadi hijau, sejuk dan sehat, tampaknya bukan lagi sekedar impian (semoga). Setidaknya sudah ada niat baik dari pemerintah kota beserta BLH, untuk mewujudkan Semarang menjadi hijau kembali.

Salah satu bentuk keseriusan pemkot adalah dengan mensosialisasikan pembuatan biopori dan pemanfaatan takakura untuk pengolahan sampah. Hari Minggu kemarin, Dulux dengan komitmennya terhadap "sustainability" menggelar acara Workshop Eco Creativecity yang menyampaikan tentang biopori dan takakura. Sedangkan pematerinya berasal dari BLH Semarang.

Beruntung sekali saya hadir di acara itu. Sekalipun saya tidak telaten dengan masalah penanganan dan pengolahan sampah, disini saya mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Setidaknya untuk saya sampaikan kepada warga sekitar. Tentu yang lebih telaten dari saya...

Dulux Ecocreativity

Materi pertama workshop yaitu tentang takakura disampaikan oleh Ibu Ratna. Materi yang disampaikan menurut saya bagus, hanya saja kendala sound yang membuat suara ibu Ratna kurang begitu jelas. Kebetulan saya duduk di belakang. Saya hanya memperhatikan dari slide yang ditampilkan dan materi yang dibagikan kepada peserta.

Takakura merupakan suatu metode yang memanfaatkan sampah organic untuk diubah menjadi kompos. Pembuatan Takakura yang sangat sederhana, bisa dengan menggunakan keranjang yang sudah jadi (alias membeli), atau membuat sendiri keranjangnya dengan aturan tertentu.

Dalam keranjang tersebut diisi bakteri pemakan sampah organik atau inokulan. Dicontohkan oleh ibu Ratna, sampah organik yang dimasukkan adalah sisa makanan. Walaupun sewaktu beliau menyampaikan materi, saya gak begitu jelas, namun ketika praktek saya jadi lumayan paham. Termasuk bagaimana menangani sampah organik tersebut, yang harus diaduk dengan inokulan, didiamkan, untuk kemudian diaduk lagi. Termasuk juga larangan terkena sinar matahari.

Adapun komponen dari takakura terdiri dari keranjang yang berisi sekam, dengan lapisan keranjang yang memungkinkan terjadinya sirkulasi udara, seperti karpet. Selanjutnya keranjang diisi dengan inokulan atau NM sebanyak 60% dari volume keranjang.

Karena bentuknya yang rapi dan bersih, serta sampah yang dimasukkan adalah yang segar, keranjang takakura ini cocok untuk ditempatkan di dalam rumah.

Selanjutnya saya mengikuti materi yang kedua yaitu tentang Biopori. Materi ini disampaikan oleh Bapak Gunawan Wicaksono juga dari BLH. Untunglah, suara bapak Gunawan begitu kenceng, sehingga saya cukup bisa mendengar dengan baik. (semoga bukan kupingku yang bermasalah).

Biopori alami adalah lubang yang terbentuk secara alami oleh berbagai aktivitas binatang tanah, seperi cacing, rayap dan semut. Namun Biopori juga dapat dibuat manual oleh manusia. Biopori buatan akan diisi oleh sampah organik yang nantinya akan mendorong terbentuknya biopori alami.

Selain menciptakan lahan resapan yang baru, lubang biopori juga berfungsi sebagai komposter. Dengan memasukkan sampah organik ke dalam lubang biopori, cacing akan terus hidup dalam lubang ini.

Cacing-cacing inilah yang nantinya akan membantu memperluas lubang biopori dan tentunya memperbesar jumlah air yang bisa diserap.

Alat yang digunakan untuk membuat lubang biopori adalah bor biopori. Lubang ini membutuhkan kedalaman minimal 1 meter. Sedangkan jarak antar lubang sekitar 1 meter. Diperlukan jarak yang cukup agar fungsi lubang menjadi sempurna.

Dalam praktek tersebut ditunjukkan juga pemanfaatan kaleng bekas cat Dulux yang difungsikan sebagai pelindung lapisan dalam lubang biopori. Selain itu tentu untuk menjaga agar aliran air menjadi lebih lancar.

Akhirnya, sampailah di ujung waktu, saatnya pulang. Tapi saya ingat akan keberadaan Ibu Anastasia selaku Marketing Manajer dari Dulux. Saya temui beliau untuk sedikit ngobrol. Beliau yang ditemani oleh Reza Lazuardi selaku pelaksana di Semarang menyampaikan alasan pemilihan Semarang sebagai tempat pertama pelaksanaan Workshop Eco Creativecity.

Alasan utamanya adalah persamaan visi dengan Pemkot Semarang dan kesiapan pemkot sendiri. Yah, semoga dengan agenda ini, kotaku Semarang bisa menjadi kota yang sejuk dan menyejukkan...

Selamat juga buat Dulux, yang mendapat penghargaan dari Singapore Green Label untuk semua produk Dulux. Ini produsen cat yang pertama di Indonesia lho ... (saya baru tahu kemarin, dikasih tahu sama ibu Anastasia).

So teman-teman, marilah kita sama-sama menjaga lingkungan di sekitar kita. Kalau toh kita gak sempat melakukan itu semua, setidaknya kita bisa ikut menjaga untuk membuang sampah pada tempatnya, dan sebisa mungkin memanfaatkan barang bekas agar tidak semuanya masuk ke tempat sampah. Sehingga bisa meminimalkan permasalahan lingkungan yang sering timbul. Sudah saatnya melakukan perubahan lingkungan demi hijaunya Semarang.

 


Tag: Semarang, hijau, biopori, takakura, Dulux, Eco Creativecity

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maknyos 0 0
kegiatan keren ini, semoga kegiatan ini bisa diadakan rutin di Semarang...Dulux keren!
earthian 0 0
Kegiatan ini di kota-kota besar lain sudah giat dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Hendaknya diselenggarakan rutin secara bergilir di tiap kecamatan.
Pengetahuan tentang pemanfaatan kembali limbah baik sampah organik maupun non organik dalam skala kecil sangat efektif di tingkat lingkungan keluarga atau pun RT.
Karena dengan melibatkan peran masyarakat sejak dari sumber limbah khususnya limbah rumah tangga akan menjadi solusi yang berdampak luas bagi pengurangan sampah.
Begitu pula sosialisasi program Biopori, sangatlah diperlukan buat Kota Semarang yang ngga pernah absen dilanda banjir.

Silahkan login untuk memberikan pendapat