Trauma Jarum Suntik 0

Jumat, 22 Apr '11 18:13

Sebetulnya saya bukan termasuk orang yang takut dengan jarum suntik. Masalah disuntik, diambil darah sampai donor darah itu sudah biasa, nggak ada takut-takutnya, ibarat seperti digigit semut begitu selesai begitu hilang sakitnya.

Kenyataan ini ternyata berubah 180 derajat, pengalaman terakhir dengan jarum suntik saat diambil darahnya ternyata telah membuat pengalaman yang sangat traumatis. Begini ceriteranya: setiap 6 bulan sekali saya selalu melakukan cek kesehatan dengan pemeriksaan darah. Seperti pada umumnya yang diperiksa kadar gula, kolesterol, asam urat dll.

Pagi itu sengaja tidak sarapan saya berangkat ke sebuah Laboratorium terkenal di Semarang, dan mengambil nomor antrian, Alhamdulillah dapat nomor kecil. Sambil menunggu saya duduk bersama yang lain-lainnya. Sesekali menjawab pertanyaan orang yang duduk di sebelah kita, dan untuk berbasa basi menanyakan alamat dan pekerjaan masing-masing.

Tiba giliran saya dipanggil, saya segera masuk ruangan khusus dan duduk di kursi yang telah disediakan. Sebelah saya ada seorang Bapak separo baya yang kelihatannya agak takut dengan proses pengambilan darah ini, bapak itu bertanya macam-macam yang terus terang agak membuat saya sebel. Masak laki-laki kok takut jarum suntik.

Berdasar pengalaman, pengambilan darah di Laboratorium klinik lebih enak dan tidak sesakit dibanding kalau diambil di rumah sakit saat kita harus dirawat di rumah sakit. Pertama karena suasananya yang nyaman, yang mengambil juga tidak memakai pakian perawat sehingga jauh dari kesan menakutkan, kita juga akan diajak melakukan percakapan ringan untuk menghilangkan rasa kawatir dan ketakutan, bahkan saat jarum akan masuk mereka akan meminta maaf sambil meminta kita untuk menarik nafas panjang, biasanya cukup sekali tusukkan mereka sudah bisa mendapatkan posisi yang pas sehingga darah segera keluar dan proses pengambilan darah tidak butuh waktu lama.

Karena saya melakukan pemeriksaan gula darah Puasa dan 2 jam PP, proses pengambilan darah harus saya jalani 2 kali. Yang pertama diambil di tangan kiri, walaupun prosesnya cepat dan sempat saya lirik jarum yang dipakai juga tidak terlalu besar, tapi saya merasakan sakit yang lebih dari biasanya. Semula saya berpikir karena posisi tangan saya yang kurang pas.

Dua jam setelah saya sarapan saya kembali untuk pengambilan darah ke dua. Karena sepi saya langsung dipersilahkan masuk dan duduk di kursi yang disediakan. Dua orang Mbak yang cantik tersenyum dan menanyakan apakah ini pengambilan yang ke dua, sayapun mengangguk. Salah satu mbak cantik yang tinggi mendatangi saya sambil menanyakan tadi pagi sebelah mana yang diambil, saya jawab sebelah kiri, maka dia langsung menuju ke sebelah kanan tangan saya, memasang pengikat karet di atas siku dan meminta saya menggenggam tangan.

Sengaja saya tidak mau melihat proses pengambilan darah itu, sebab masih teringat bagaimana yang pertama tadi sudah cukup menyakitkan. Dengan sedikit membungkuk si Embak meminta saya untuk menarik nafas panjang, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang merobek dibawah kulit saya, ini betul-betul membuat saya terkejut, untung saya sadar jika sedang diambil darahnya, sehingga saya tidak menarik tangan saya, tapi ini betul-betul membuat saya kesakitan yang sangat. Saya tidak tahu apakah si Embak mengetahui hal ini karena setelah menarik jarumnya dia hanya berkata "Sakit Bu?". Sambil menahan sakit tanpa menjawab saya menoleh kearah wajahnya, dan saat si embak tersenyum lebar saya kembali terkejut melihat pemandangan yang menurut saya sangat menakutkan, bukan karena wajahnya tidak cantik tapi karena di giginya ada kawat beigel yang menurut saya menyebabkan wajahnya yang cantik menjadi terlihat sangat kejam, maka sayapun lemas duduk di kursi pesakitan itu. Saya kembali tersadar saat merasakan sakit yang sangat dibekas jarum suntik tadi, dan si Embak masih berusaha untuk menghentikan perdarahan kecil dibekas suntikkan dengan mengganti kapas dan terus menekan dan menekan.

Malam inipun saya masih merasakan sakit ditempat bekas jarum suntik itu jika ditekan, padahal sudah 3 hari, sementara yang satunya sudah tidak terasa apa-apa. Dan malam ini saya teringat dengan anak-anak Thalassemia yang biasa tranfusi di PMI, bayangkan mereka harus mengalami proses tusuk menusuk ini hampir sebulan sekali, bahkan ada yang dua minggu sekali. Dan karena seringnya mereka mengalami tusukkan itu menyebabkan nadi mereka menjadi mudah pecah sehingga harus berpindah-pindah tempat untuk menusukkan jarum tranfusi.

Pengalaman disuntik yang pertama kali memang sering membuat anak-anak bahkan orang dewasa menjadi trauma, bukan saja karena anak-anak sering ditakut-takuti kalau nakal akan disuntik, tapi juga pengalaman yang menyakitkan saat disuntik untuk yang pertama kali, yang memang menyebakan trauma, seperti apa yang baru saja saya alami beberapa hari lalu, sehingga sekarang saya jadi agak takut jika harus berurusan dengan jarum suntik, padahal dulu tidak demikian.

Saya jadi berpikir mengapa pengambilan darah yang dilakukan ada yang menimbulkan sakit yang sangat tapi ada yang berjalan dengan enak tanpa menimbulkan rasa sakit, apakah ini berhubungan dengan alat yang dipakai dan harganya, atau karena tehnik yang dipakai. Dan kalau kita merasakan sakit yang sangat bolehkan kita Protes dan memberitahukan kepada petugasnya karena dia telah melakukan sebuah kesalahan?


Tag: trauma, jarum suntik, sakit

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat