Berbagi Kasih di Panti Asuhan Rifda 0

Selasa, 12 Apr '11 09:53

Sore ini aku masih teringat dengan tatapan kosong, senyum yg khas, teriakan-teriakan yg menurutku antara luapan gembira atau kesakitan tidak bisa dibedakan... Berbagai ekspresi wajah dan suara itu keluar dari anak2 penyandang cacat keterbelakangan mental yang di tampung oleh Panti Rifda di sebuah rumah mungil seukuran type 21 di sebuah gang daerah Sedayu, Bangetayu Semarang.

Adalah Mbak Rahma yang sudah 3 tahun ini mendirikan panti asuhan anak cacat atas dasar dorongan nurani dan rasa sayangnya pada anak-anak. Awalnya dia terpaksa menjadi guru bagi anak jalanan atas permintaan temannya. Kemudian akhirnya tumbuh rasa ingin merawat mereka..tetapi oleh Dinas Sosial dia diminta mendirikan panti asuhan yang belum banyak orang terlibat yaitu, khusus anak-anak cacat keterbelakangan Mental.

Ketika ditanya dari mana asal usul mereka, banyak yg berasal dari limpahan kepolisian yang merazia gelandangan di jalan kemudian setelah tidak ada yang mengakui sbg anaknya maka diserahkan ke Panti ini. Total penghuni sekitar 30 anak, di rumah Type 21 tsb bisa menampung 16-20 anak dengan kondisi yg mengenaskan.... Bisa diambil kesimpulan bahwa mereka berada disini adalah karena dibuang oleh orang tuanya yg merasa malu mempunyai anak dengan keterbelakangan mental. Barusan dua hari yg lalu, mereka menampung bayi prematur umur 7 bulan yg ditinggal lari oleh orangtuanya...

Mbak Rahma bersyukur sekali dia berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 25 jt dan membeli tanah ukuran 12m x 25 m di daerah Tlogomulyo. Kok Bisa... ?? Ternyata harga tanah per m sebnarnya 315.000/m jd total seharusnya Rp. 94.500.000. Tetapi si pemilik tanah melihat bahwa di atas tanah itu akan dibangun Panti Asuhan Anak Cacat..Maka dia menerima uang itu dan pelunasannya terserah sampai mampu dilunasi. Subhanallah....

Melihat kondisi anak-anak tersebut, saya teringat dengan buku Provokasi2 Mantra karya Prasetya M Brata..bab "Perjalanan menuju kesempurnaan". Bahwa anak2 itu bukanlah lahir dengan ketidaksempurnaan, justru mereka itu sempurna, kitalah yang tidak sempurna. Ketakutan, rasa malu, memaksa keinginan bahwa anak itu harus "sempurna" secara fisik, justru menunjukkan kelemahan kita. Ketika ada bayi yang dibuang hanya karena bibirnya sumbing, bahkan ibunya malu sampai ingin bunuh diri.

Jadi siapa yang tidak sempurna ? Sang Bayi atau sang Ibu ? Kalau semenjak lahir hidup seperti itu dan mereka tidak merasakan apa yg dirasakan "orang normal" spt kita, lalu mereka menerima dan bersuka cita dengan keadaan mereka, bukankah berarti hidup mereka yang sempurna ? " Ketidaksempurnaan" mereka menurut pikiran kita, justru panggilan untuk kita menjadi sempurna. Bukankah hal ini sendiri sudah suatu kesempurnaan? Siapa yg akan banyak memproduksi dosa ? Mereka ? atau Kita ?
Hari itu di panti rasanya bukan saya yg mengunjungi mereka, tetapi mereka yg mengunjungi kehidupan saya. Saya bukan menyaksikan mereka, tetapi mereka seperti sdg menyaksikan pergolakan batin saya.

" Gila, hidupku beraat banget.."

"Aduuh...kenapa mesti gue sih yg menderita kayak gini..?" dan... bla..bla..blaa.. kalimat2 keluhan lainnya yg sering kita ucapkan..

Waktu kita mengucapkan kalimat itu, kita sepertinya tidak melihat hadirnya keberuntungan di benak kita. Padahal sang keberuntungan telah hadir di ruang itu, cukup dgn bertanya kepada diri sendiri.

".......dibandingkan apa ??.....dibandingkan siapa ?? "

 

Cerita Mas Wawan dari Facebook

Yuk temen2 Komunitas Online di Semarang, Berbagi Kasih lagi buat saudara2 kita di Panti Asuhan Rifda

*) Untuk bantuan dana terhadap pembangunan gedung panti anak cacat bisa hubungi Mbak Rahma 08156531947. Ada kesempatan beramal untuk membantu mereka jangan biarkan Mbak Rahma berjuang sendirian....


Tag: berbagi kasih, panti asuhan rifda

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat