Semarang Dalam Puisi 2

Selasa, 22 Mar '11 21:28

Semarang

Dulu, kini dan nanti

Hanya disini aku ingin menghabiskan waktuku

Bersama orang yang kusayangi, kukasihi

Bahkan dengan yang membenciku, aku tak perduli

Karena bagiku,semua yang hidup disini seperti saudaraku sendiri

 

Semarang, dulu, kini dan nanti

Padamu kusangkutkan jiwaku yang senantiasa resah

Berlari dari ROB yang mengejar sampai terengah-engah

Berkelit kanan kiri, muka belakang menghindari gundukan sampah

 

Semarang, dulu, kini dan nanti

Padamu kulabuhkan mimpiku tentang kapal kecil yang berseliweran

Dari Mberok sampai Klenteng Tai Kak Sie, dari Manggistan sampai Rejosari

Mengangkut bakul pasar dan anak-anak sekolah

Buruh pabrik, pelayan toko dan sopir angkota

Dan jalan raya akan lebih lega, Pak Polisi tak perlu semprat-semprit saja

 

Semarang, dulu, kini dan nanti

Pasar Dargo, Pasar Langgar bahkan Pasar Johar

Tak ada keramahan dan kasih sayang disana

Hanya bau busuk dan pesing dimana-mana

Kalau sudah tak tahan, silahkan kencing di celana

Daripada Perut Mules dan ginjal terluka

 

Semarang, dulu, kini dan nanti

Lumpia, Wingko Babad dan Ganjel Riil

Soto Bangkong, Nasi Goreng Babat dan Babat Gongso

Tahu Petis, Tahu Gimbal dan Tahu Pong

Bakmi Kopyok, Bakmi Jowo dan Nasi Ayam

Wedang Tahu, Wedang Ronde dan Wedang Roti

Semua selalu kurindu, saat kujauh darimu

Seraya membayangkan Gereja Blenduk dan jalan-jalan di Kota Lama

Yang digenangi air bukan karena hujan tiba

Tetap saja aku masih dan selalu cinta

 

Semarang, dulu, kini dan nanti

Bahkan sampai aku tak kuat lagi

Boyok pegel, kaki lumpuh dan tangan gringgingen

Aku ingin menjadi tua disini, mati disini

nanti... masih lama sekali...

 

Semarang, dulu, kini dan nanti

Biarpun komplek Pecinan berubah jadi Mall atau Toserba

Pasar Johar berubah jadi Gedung Bioskop atau Gedung Olah raga

Dan Kota Lama tenggelam oleh ROB yang makin menggila

Cintaku padamu patent sepanjang masa

Tak terbeli sampai aku mati

Dan kalau sampai semua itu terjadi

Biarlah arwahku menghantui

Para pejabat yang memberi ijin semua itu terjadi

 


Tag: Semarang, riwayatmu kini

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mbah'e 0 0
semarang dalam senandung kata

engkau bagai seorang pesolek
setiap hari bersolek.....
berdandan bak rupawan....
setiap sudut mu seakan tidak mau tertinggal........
baju rupawan bak pesohor yang baru berlenggok
rona merah gincumu tersaput menghias wajahmu yang kaku........
semarang......
disini ku tinggal.....
semarang ......
disiniku berkarya.......
satu pertanyaan yang tak akan terjawab...
kapan dirimu setara dan mampu membuat nyaman kami...
yu kunyil 0 0
Kalau mau bisa dilihat di You Tube: Semarang dalam Puisi, by Sulis Bambang
Ada juga Sepanjang jalan Kenangan dan Puisi Gendut

Silahkan login untuk memberikan pendapat