Cultural Rising Nguri - uri Budaya Wayang Uwong 2
Rabu, 26 Jan '11 18:33
Berangkat dari rasa keprihatinan akan nasib Wayang Orang yang makin lama makin terpuruk karena ditinggalkan penontonnya, bayangkan setiap kali pementasan yang dilakukan seminggu sekali pada hari Sabtu malam, penonton Wayang Orang Ngesti Pandowo bisa dihitung dengan jari, padahal tiket masuknya cuma Rp.10.000,-
Ceritera Wayang bersumber dari 2 epos besar Mahabarata dan Ramayana, seperti pada pertunjukkan wayang lainnya Wayang Orang mengambil petilan dari ke dua Epos tersebut. Berbeda dengan wayang kulit yang dimainkan semalam suntuk dengan Dalang sebagai tokoh yang membawakan ceritera, sehingga pada pertunjukkan wayang kulit para penonton bisa menikmatai jalan ceritera dengan lebih detail, sebab disamping berceritera dalang juga akan menirukan percakapan yang dilakukan oleh tokoh-wayang yang sedang dimainkannya. Sementara pada wayang Orang dialog yang dilakukan para pemain sangat terbatas pada dialog yang penting saja, sehingga bagi yang tidak memahami ceriteranya akan kesulitan untuk mengetahui maksudnya.
Pada pertunjukan Wayang Orang lebih menonjolkan gerak tari dan kostum yang dipakai para pemainnya dengan iringan gamelan untuk menghidupkan pertunjukkan yang sedang digelar. Disini juga diperlukan dalang / Sutradara yang akan membantu penonton untuk lebih memahami pertunjukkan yang sedang berlangsung.
Dengan tujuan untuk melestarikan dan mengangkat Wayang Uwong ke tempat yang lebih layak sebagai warisan Budaya yang indah dan Elok, Alumni Angkatan'76 SMA.Negeri I-II Semarang bekerja sama dengan Ngesti Pandowo, menggelar acara "Cultural Rising Nguri-uri Budaya Wayang Uwong, Main dan Nonton Bareng Wayang Uwong Lakon Gatotkaca Edan" pada tanggal 22 Januari 2011 lalu.
Dari acara Nonton dan Main Bareng Wayang Orang ini diharapkan timbul rasa cinta akan Wayang Orang yang telah hilang selama ini, bukan saja untuk para Alumni'76 tapi juga kepada keluarganya sampai anak-anak dan cucu-cucu. kecintaan yang timbul akan wayang Orang dari para generasi muda sangat diperlukan agar para generasi muda bisa tetap menjaga Wayang Orang dari Kepunahan
Walaupun kehidupan para artis wayang tidak menguntungkan, mereka tetap berusaha memainkan lakon-lakon ceritera dengan sebaik mungkin, bukan hanya sekedar mencari duit tapi lebih kepada panggilan jiwa seni yang sudah tertanam dalam di hati mereka. bayaran mereka yang tidak seberapa ditambah dengan peralatan Make Up seadanya mereka masih selalu berusaha untuk tampil prima. jika kita tidak tergetar melihat kenyataan ini maka sia-sialah hidup kita yang selalu mengaku sebagai bangsa yang berbudaya.
Para Alumni'76 yang sudah lama tidak bersentuhan dengan dunia wayang dari acara ini kembali teringat akan tokoh-tokoh idola masa kecil seperti Gatotkaca, Arjuna dan Bima yang sangat dikagumi sebelum lahirnya Batman dan Superman. hal ini juga yang mendorong para Alumni untuk memilih peran yang bisa mereka mainkan.
Dari kegiatan ini diharapkan Budaya Wayang Orang yang tergabung dalam Ngesti Pandowo akan tetap bisa dilestarikan dan dijaga dari kepunahannya, sebab jika wayang Orang punah dari muka Bumi Indonesia, tidak menutup kemungkinan anak-cucu kita nanti harus pergi ke Belanda atau Australia jika ingin menikmati Wayang Orang.
Yang menjadi harapan adalah budaya Wayang Orang ini akan berkembang semakin baik dan mampu memberikan pertunjukkan yang menawan hati kepada para penontonnya sehingga mampu menarik para generasi muda untuk menikmatinya, syukur syukur Wayang Orang bisa menjadi salah satu Icon kebanggan Kota Semarang.
Tag: wayang orang
Terkait:
-
WAYANG.... WAYANG.... dan WAYANG
Minggu, 7 Feb '10 22:01
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ToysWorld: Jos Gandhos
-
maknyos: Lheb Godhek
-
endahyellow: Sip Tenan
-
jatiblack: Lheb Godhek

Komentar:
anak-anak kita tidak pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan kretifitasnya, keinginan untuk mengeksplorasi alam sekitar dan budaya juga tidak dikembangkan. seandainya itu dilakukan dan difasilitasi dengan baik niscaya kecintaan akan alam, lingkungan dan Budaya akan tumbuh subur diantara anak-anak dan remaja kita, sehingga anak-anak kita menjadi cerdas sekaligus memiliki kepekaan akan lingkungan dan budaya. bukan menjadi anak-anak yang merusak dan kejam.
Silahkan login untuk memberikan pendapat