Uang Miliaran Dijarah Atas Nama Bola (PSIS) 2
Senin, 10 Jan '11 16:35
ICW punya catatan lain lagi. Menurut Danang Widoyoko, kasus besarnya uang yang disetorkan kepada PSSI atau wasit memang bisa berpengaruh kepada prestasi klub di setiap kompetisi. Danang kemudian memberi contoh PSIS Semarang.
Selama 2004-2008, PSIS Semarang prestasinya terus meningkat dengan kucuran dana yang meningkat pula dari APBD. Pada 2004 PSIS menerima Rp 3,1 miliar dan keluar sebagai Peringkat 9 Liga Indonesia (LI) XI 2004.
Tahun 2005 klub ini menerima Rp 7,2 miliar lalu menjadi Juara III LI XII 2005. Berikutnya, pada 2006 PSIS menerima dana Rp 14 miliar lalu menjadi Juara II LI XIII 2006. Tapi ketika pada 2007 menerima dana Rp 12,2 miliar, PSIS Semarang kemudian masuk degredasi dari liga profesional terjun ke Divisi Utama.
ICW menduga, dana APBD 2007-2008 untuk PSIS digunakan untuk dana Kampanye Sukawi Sutarip, ketua Umum PSIS Semarang dan walikota semarang 2004-2009. Dia menggunakan dana saat Pemilihan Gubernur Jateng 2008.
"Karena dipakai kampanye akhirnya dananya habis dan tidak bisa menyuap sana sini untuk meningkatkan posisi PSIS di LI. Akibatnya PSIS terdegradasi," ujar Danang.
Dana APBD yang dikucurkan ke klub PSIS Semarang bisa dibilang sangat besar dibanding untuk program penting di daerah tersebut. Sebagai gambaran, ICW mencatat, di APBD 2006 dana untuk perbaikan gizi masyarakat hanya Rp 607 juta. Dana program pendidikan anak usia dini Rp 1,4 miliar. Dan anggaran untuk pengembangan UMKM sebesar Rp 1,6 miliar. Sementara dana hibah untuk PSIS justru berlipat-lipat, yakni mencapai Rp 14 miliar.
Sayangnya, walau anggaran besar telah dikucurkan PSIS prestasi tidak ada. Dan Pemda tidak dapat apa-apa. "Ini bukan saja pemborosan anggaran. Tapi juga tidak berdampak bagi masyarakat Semarang," tegasnya.
Jadi, sambung Danang, kalau diestimasi semua klub yang menerima kucuran APBD jumlah duit negara yang menguap bisa mencapai Rp 720 miliar hingga Rp 1 triliun. Asumsi ini jika dana APBD digunakan oleh 18 klub LSI ditambah 36 klub Divisi Utama.
Jika klub yang ikut LSI mendapat Rp 20 miliar dan klub Divisi Utama Rp 10 miliar, berarti tiap tahun mereka menghabiskan Rp 720 miliar- Rp 1 triliun. Padahal uang sebanyak itu sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan masyarakat di daerah-daerah.
DIKUTIP DARI DETIK.COM 10.1.2011
Tag: psis semarang
Terkait:
-
PSIS Semarang Bagus, Tapi Penontone ora Bagus
Selasa, 21 Des '10 11:25 -
PSIS Gagal ke Liga Super, Sukawi ‘Berkilah’
Selasa, 6 Apr '10 08:38 -
Aliansi Suporter Semarang untuk Perubahan dan Reformasi Klub (ASS PREK !!!)
Jumat, 2 Apr '10 17:57

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat