Mencintai Museum Kita 2

Jumat, 12 Nov '10 10:35

31 Oktober kemarin adalah kunjungan ke dua tempat di kota Semarang. Tempat yang selama ini terlewatkan...Selain Pantai Maron, saya juga berkunjung ke Museum Rangga Warsita. Setelah angkot tempat saya nebeng dari Maron sampai didepan Museum, saya turun dari sana dan tak lupa mengucap terima kasih kepada keluarga yang sudah berbaik hati memberi saya tumpangan.

Museum Rangga Warsita berdiri dengan megahnya di Jalan Sudirman. Sayapun memasuki museum yang katanya termasuk besar di Jawa Tengah ini. Setelah membayar karcis seharga 4000 perak di loket yang ber-AC, sayapun masuk ke dalam Museum. Saat memasukinya, saya disambut dengan patung setengah badan Rangga Warsita dengan petuahnya yang tertulis dalam aksara latin dan Jawa. Setelah kedalam lagi, saya disambut dengan gunungan wayang yang besar sekali.

Disitulah, perjalanan saya didalam museum dimulai. Ada beberapa alat audio visual yang terserak tak berfungsi disisi kiri bagian pertama museum. Ternyata model museum ini berstruktur sambung menyambung secara berurutan. Bagian paling pertama tentunya adalah kepurbakalaan, dimana batu-batuan alam dipajang disana...kemudian bersambung dibagian kedua fosil-fosil binatang serta binatang yang diawetkan. Di pintu keluar sudah disambut dengan bagian awal manusia purba, sambung menyambung dengan naik turun dari satu ruangan ke ruang lainnya yang nampak kronologis, hingga bagian era reformasi. Saya sebenarnya sangat takjub dengan museum ini..hanya saja, pengunjungnya sangat sedikit. Hanya beberapa gelintir yang datang ke sana.

Ketika saya keluar dari museum. Dilorongnya saya jumpai alat-alat audio visual yang tujuannya untuk menjelaskan koleksi museum dan video. Namun sayang, semua alat itu tidak berfungsi dan tergeletak pasrah menuju keusangan. Belum lagi bagian diorama yang menggambarkan suasana perang revolusi di bagian jaman perang juga nampak tak terurus. Lantainya juga sebagian ubinnya terlepas dari rekatannya. Sungguh rasanya tidak nyaman. Padahal peninggalan sejarah yang disimpan cukup banyak.

Jujur saja, kita seringkali berkunjung ke museum hanya ketika ada tugas (terutama yang masih sekolah), ataupun sekedar mengantar anak kesana. Sementara kita sendiri entah kenapa masih belum bisa menghargai dan mencintai museum yang sudah dibangun susah payah ini. Saya jadi ingat Museum Brawijaya di Malang, keadaannya juga seperti tak terurus, dan pengunjungnya tidak tetap...selalu sedikit. (masih ingat dulu tiketnya 700 perak), dan aset-aset museum Brawijaya ini mayoritas memang artefak-artefak militer dan sebagian peninggalan jaman Malang tempo doeloe.

Apresiasi kita masih belum bisa dibandingkan dengan bangsa lain. Entah sampai kapan sikap kurang menghargai peninggalan-peninggalan leluhur baik yang dilokasi maupun di museum ini akan berakhir. Yang masih kita pikirkan adalah bagaimana agar perut terisi bahkan dengan cara-cara yang haram sekalipun. Seperti menjual benda-benda museum yang sangat berharga itu. Entah apa yang dibenak pelakunya, pastinya ujung-ujungnya bermuara pada perut-perut dan perut. Ciri bangsa miskinkah? Entahlah, silakan menilai sendiri.

Bersyukur masih ada beberapa kalangan bangsa ini yang mencintai museum dengan berdirinya komunitas-komunitas pecinta museum. Tapi seharusnya pemeliharaannyapun didukung bersama dari semua pihak. Apakah dengan memperbanyak event-event di museum itu agar tidak sepi, seperti pekan budaya yang diadakan di museum atau acara reguler dengan sponsor yang tujuannya agar museum dapat menjadi sarana pembelajaran efektif bagi kita semuanya. Semuanya berpulang pada pihak-pihak yang berkepentingan. Apakah museum dimakmurkan, ataukah hanya sekedar gudang penyimpanan benda bersejarah yang akhirnya termakan usia bahkan diperjual belikan? Semoga pandangan saya tidak keliru.

Melihat peralatan audio visual yang terbengkalai di Museum Rangga Warsita ini membuat saya kian miris. Harus ada langkah bersama dengan komunitas pecinta museum dikota ini.

 

Bambang Priantono
8 November 2010
1 Dzulhijjah 1431H/Besar 1943 Dal


Tag: Semarang, museum, jalan-jalan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

nonowaewis 0 0
Mari kunjungi museum
ninazski 0 0
dulu masuk gratis,...sekarang bayar 2rb...

Silahkan login untuk memberikan pendapat