A Way To Maron Beach - Jalan Menuju Pantai Maron 8
Senin, 1 Nov '10 06:40
Salah satu pelarian dari kejenuhan yang melanda dan melupakan masalah yang menghadang adalah dengan mengunjungi tempat-tempat yang selama ini terluput dari pikiran. Berhubung saya menunda perjalanan ke Jogjakarta karena masalah teknis, maka saya pilih saja ke Pantai Maron yang belum pernah saya datangi. Sekitar jam 6.30 saya sudah berangkat dari kos-kosan, makan bubur ayam diseberang kos kemudian naik bis jurusan Mangkang. Saya diberitahu kalau harus berhenti di Ereveld Kali Banteng. Disitulah saya berhenti.
Di depan Ereveld Kali Banteng, saya berhenti sejenak untuk foto-foto. Kemudian saya lanjutkan perjalanan memasuki Jalan Jembawan yang ada disebelah kompleks pemakaman para prajurit Belanda yg tewas saat perang dulu. Saya sempat bertanya kepada pemilik warung di jalan jembawan itu. Apa Maron terus? Dia menjawab, terus saja Mas...Saya berjalan lagi menyusuri Jalan Jembawan yang kemudian aspalnya habis di lintasan Rel Kereta Api dekat Bandara Ahmad Yani. Selanjutnya jalannya adalah jalan tanah.
Tapi, saya nekad saja jalan terus...tidak ada angkutan apapun. Ojek satu bijipun juga tidak ada. Perjalanan saya lanjutkan sendiri dengan jalan kaki. Banyak juga sepeda motor dan mobil berseliweran menuju Pantai Maron, padahal jalan menuju sana sangat jelek. Berlatarkan sawah, tambak serta landasan Bandara yang berdekatan saya paksakan diri terus berjalan melewati jalanan berdebu di pagi itu. Sesekali saya mengagumi beberapa ekor bangau yang terkadang terbang melintas. Menikmati suasana tambak plus suara pesawat yang sesekali terdengar membahana. Makin ke utara, jalanan semakin becek...ibaratnya saya melintasi kubangan kerbau. Banyak kendaraan yang sempat tertahan karena beceknya cukup dalam. Plus saya harus ekstra hati-hati agar tidak kotor terlalu parah.
Eh, saat melewati jalanan berlumpur ketiga ada pickup yang terjebak dalam lumpur. Sementara mobil dan sepeda motor dibelakangnya bukannya membantu, malah terus membunyikan klaksonnya. Sang pengemudi nampak berusaha keras untuk memajukan mobilnya, tapi tak ada yang peduli. Sontak saya jengkel...sudah panas-panas harus melewati lumpur lagi. Tanpa ba-bi-bu saya langsung berusaha dorong mobil itu dari belakang, dibantu oleh seorang pengendara motor yang ngomel-ngomel karena egoisnya orang disekitarnya. Dengan tenaga dua orang ini, akhirnya mobil bisa keluar dari kubangan lumpur. Saya senang akhirnya lancar lagi perjalanan, meski sempat kecipratan lumpur. Saya terus melenggang ke arah Maron dan sepertinya orang-orang disitu melihat ke arah saya (ge-er kali hahaha).
Di pintu masuk, ternyata beceknya lebih parah. Ada beberapa petugas pintu masuk yang menarik bayaran ke setiap pengendara motor dan mobil. Dengar-dengar sih 10 ribu kalau mobil sementara motor saya gak pasti. Saya sempat ngobrol dengan dua orang di pos jaga yang nampaknya tentara. Mereka kata, jalur yang becek ini dilewati oleh truk proyek pengurukan Bandara Ahmad Yani yang sampai sekarang belum selesai, dan bila hujan..jangan bayangkan!!! Kebo-kebo silakan mandi disana.
Saya bertanya lagi "Pak, Maron masih jauh ya?"
"Iya Pak, 1,5 km lagi" jawab si tentara
"O Mai Jodddd!!!" dalam hati saya merutuk. Tapi harus tetap semangat...ada masalah pasti ada jalan toh? Jangan patah arang dulu kalau belum berusaha. Lupakan yang kemarin dengan menghadapi ini! Saya terus berjalan. Karena jalan kaki maka saya dinyatakan GRATIS..hehehehe!!!
Kira-kira 10 menit jalan kaki melewati kawasan pertambakan, akhirnya sampai juga di kawasan Pantai Maron. Pantai ini merupakan satu-satunya tempat warga Semarang bisa mandi-mandi dan bermain pasir (hitam) serta bersantai. Berbeda dengan Pantai Marina yang sudah dikapling-kapling. Pantai Maron ini murah meriah dan setiap akhir pekan selalu ramai didatangi warga, kendati jalannya susah sekalipun. Padahal pantai ini tidak jauh dari Bandara Ahmad Yani. Fasilitas yang ada juga lumayan meski terbilang kurang begitu layak. Warung-warung, persewaan ban, tikar dan sewa perahu (per orang 5000) keliling kawasan pantai semuanya ada. Hanya penataan yang kurang itulah yang mengakibatkan Pantai Maron dimata saya sedikit kumuh.
Saya naik ke kapal sewa setelah menunggu sekitar 15 menitan. Sebenarnya kuatir mabuk laut, tapi ya itu..hanya saat diam saja perahu bergoyang-goyang. Setelahnya??? Benar-benar mengasyikkan! Bisa melihat pantai dari kejauhan, hutan bakau yang hijau, serta lebih dekat dengan perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan. Pantai Maron sayangnya tidak jernih, ditambah dengan pasirnya yang kehitaman. Namun warga sepertinya tidak mempedulikannya, yang penting murah meriah, bisa bersantai dan berkumpul bersama teman atau keluarga.
Saya harus buru-buru keluar dari Maron sebelum tengah hari, karena pastinya akan makin panas. Kembali lagi berjalan kaki menyusur jalanan yang blang bonteng tidak karuan ini. Tapi entah kenapa, tiba-tiba ada sebuah angkot yang mengangkut keluarga berhenti saat melewati saya dan menawari saya tumpangan. Alhamdulillah! Apa ini balasan dari kejengkelan saya tadi saat melihat mobil pickup terperosok dalam lumpur? Entahlah...Hanya Dia Yang Maha Tahu. Yang jelas saya merasa sangat tertolong, karena ada yang memberi tumpangan pulang. Didalam angkotpun saya dan orang-orang didalam angkot ngobrol-ngobrol soal Pantai Maron ini. Yah, jawabannya sama..murah meriah. Ada truk dan traktor yang memadatkan jalan di sepanjang perjalanan. Tapi setelah truk lewat, kubangan lumpurnya malah makin dalam....untungnya dengan pelan2 akhirnya bisa lagi lewat.
Sayangnya pemerintah Kota Semarang seolah mengabaikan keberadaan Pantai Maron ini. Pengelolaannyapun terkesan semrawut. Mulai dari penataan warung-warung, hingga fasilitas MCK-nya. Padahal pantai ini menjadi tempat kunjungan favorit warga Kota Semarang untuk melepas kepenatan plus tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Akses jalan menuju Pantai Maronpun seharusnya diperkeras...paling tidak diberi aspal, agar kendaraan yang keluar masuk bisa lebih lancar perjalanannya.
Pantai Maron sebenarnya cantik, hanya saja kepengurusannya yang acak-acakan. Semoga ada kepedulian semua pihak bagi pelestarian pantai ini. Amien...
Inilah celoteh saya setelah kembali dari Maron
Bambang Priantono
31 Oktober 2010
Semarang
*Setelah kembali dari Pantai Maron*
Tag: Semarang, pantai maron, catatan
Terkait:
-
Social Media Fest 2011, Ajang Kopdar dan Halal bi Halal Komunitas Online Kota Semarang
Minggu, 25 Sep '11 04:55 -
Semarang Night Carnival 2012
Minggu, 29 Apr '12 05:39 -
Pemecahan Rekor Lumpia Terpanjang 2012
Senin, 23 Apr '12 13:31

Komentar:
ya begitulah kondisi kita. di satu sisi kalo suatu tempat jadi obyek wisata, situasi akan berubah. banyak pedagang yang kadang membuat kurang nyaman pengunjung. di sisi lain, kadang sayang juga potensi begini ndak dikelola dgn baik.
kenapa gak dikelola oleh swasta sekalian, ya? meski ongkos masuk bisa lebih mahal, namun pengelolaannya tentu lebih profesional daripada dikelola pemerintah.
Nggak tau sekarang jadinya kayak gimana???
Silahkan login untuk memberikan pendapat