Bandara A Yani Benteng Ekologi & Pertumbuhan Kota 6

Kamis, 21 Okt '10 11:46

Kompas, 20 Oktober 2010

Wacana pemindahan terus bergulir sekalipun Gubernur Bibit sudah melakukan upaya terobosan dengan ‘menanting' langsung direktur Angkasa Pura 1, selaku operator Ahmad Yani International Airport (AYIA), merealisasikan pengembangan terminal AYIA di utara Runway saat ini.

Meski upaya terobosan ini sudah mendapat titik terang, wacana kontra mengenai rencana ini ternyata tak juga surut. DPRD Jateng melalui beberapa fraksi bahkan menurunkan wacana untuk memindahkan bandara ke luar kota dengan alasan, AYIA dianggap telah menghambat laju investasi dan pertumbuhan kota Semarang, tercermin dari urungnya beberapa investasi property pencakar langit gara-gara ketentuan Kawasan Keamanan Operasional Penerbangan.

Alasan lain yang disampaikan, diharapkan pemindahan bandara di luar kota Semarang akan dapat mengakselerasi sebuah pusat pertumbuhan baru di lokasi relokasi bandara, dan jika bandara hanya dipindah di utara runway maka dikuatirkan Rob akan mengancam operasional bandara.
Sekilas alasan-alasan tersebut Nampak masuk akal dan dapat memecahkan kebuntuan pemikiran untuk mengembangkan semarang ‘Setara' dengan kota-kota besar lain di Indonesia. Namun jika dilihat lebih jauh, sebenarnya memindahkan AYIA juga sangat berpotensi memicu persoalan lain yang tidak lebih ringan.

Jika AYIA benar-benar direlokasi maka Semarang akan benar-benar diserbu investor properti. Tampaknya ini akan sangat menguntungkan, namun disisi lain ancaman mengincar.

Pertama, kawasan Simpanglima dan Jalan Pemuda akan ‘dihajar' investor dengan property tinggi. Ini akan mengakibatkan beban kota meningkat dahsyat dan menyebabkan potensi penurunan permukaan tanah serta potensi rob.

Kedua, seiring pertumbuhan kawasan pusat kota yang pesat akan menimbulkan dampak kemacetan yang luar biasa.
Ketiga, alih-alih bercita-cita bahwa relokasi bandara akan mampu membuka pertumbuhan kota, yang terjadi justru sebaliknya. Kondisi ini hanya akan menyebabkan ‘kota Semarang' hanya akan semakin tumbuh terpusat di sekitar CBD Simpanglima-Pandanaran-Pemuda-Gajahmada saja, karena memang hanya kawasan itu saja yang laku dijual pada investor.

Mimpi menjadikan kawasan bandara sebagai pusat pertumbuhan barupun perlu dikaji ulang. Kawasan Tangerang Utara tempat dimana bandara Soekarno Hatta berada misalnya justru jauh tertinggal dari kawasan Serpong di Tangerang Selatan.

Sebaliknya jika kita mau melihat pada potensi pemindahan terminal AYIA di utara runway, kita juga melihat sebuah jalur emas yangjustru bisa diunggulkan dibanding kota lain di Indonesia. Bayangkan, jika terminal dipindahkan di utara runway, maka AYIA hanya akan berjarak 1 km saja dari kawasan PRPP dan Puri Maerokaca sebagai kawasan Expo Center terbesar sekaligus etalase bisnis Jawa Tengah (yang harus segera direvitalisasi), hanya berjarak sekitar 4 km dari terminal peti kemas, 7km dari Pelabuhan Samudera tanjung Emas, keempat obyek vital ini telah terkoneksi dengan jalur jalan arteri yang sangat memadai.

Tidak itu saja, kawasan ini hanya akan berjarak 10 km dari kawasan industri terboyo dan 7 km dari kawasan Industri Candi serta tentu saja hanya berjarak 6-7km saja dari CBD simpanglima jalan Pemuda, seluruhnya merupakan simpul bisnis terkuat di Semarang dan Jawa Tengah. Jika melihat peta tersebut seharusnya posisi AYIA sudah sangat tepat untuk melayani kebutuhan Semarang sebagai kota Bisnis dan Perdagangan.

Larinya investasi yang disebabkan oleh KKOP di kawasan Simpanglima seharusnya dijadikan momentum bagi Pemkot dan Pemprop untuk membuka peluang pengembangan CBD baru di sekitar semarang. Pemkot bisa menawarkan kawasan Pedurungan, Srondol atau BSB dan lain-lain untuk dapat lebih dikembangkan oleh investor.

Demikian juga Pemprop dapat menawarkan pengembangan CBD di kawasan hinterland Semarang seperti Demak, Kendal maupun Ungaran. Jika menurut investor kawasan tersebut kurang menarik untuk berinvestasi, maka Pemkot dan Pemprop harus member jaminan-jaminan bagi investor dengan membangun infrastruktur, kebijakan dan iklim yang kondusif untuk berinvestasi di kawasan tersebut.

Jadi silakan dipikirkan kembali secara lebih jernih. Mana yang lebih menguntungkan memindahkan bandara hanya demi gengsi dan pertumbuhan semu, atau mempertahankan lokasi bandara sebagai benteng ekologi kota sekaligus gerbang potensi yang masih tersembunyi.
Titus Soepono Adji, Pemerhati kota Semarang,

 


Tag: Semarang, bandara

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

nonowaewis 0 0
Kudu dialihno ning Demak koyoke ki..tapi yo saingan karo Adi Sumarmo
titus katro 0 0
Bandara pindah di Demak = Nggusur Deso kang. Ingat slogan pak Bibit, Bali Deso, Mbangun Deso, bukan Nggusur Deso....
Bandara tidak usah pindah, jauh lebih nyaman daripada mikir pindah tapi baru terealisasi 20 tahun lagi. Wong bikin Flyover Kalibanteng wae usullnya 10 tahun lalu baru terealisasi tahun depan (kalo jadi), opo meneg usul mindah bandara ysing nganggo pembebasan tanah barang....
danindra 0 0
hmmm..
memang persoalan pengkerdilan semarang sudah santer terdengar.
kebetulan saya mengikuti diskusi mas titus di forum skyscraper.
saya dapat bocoran dari pakde yg orang TNI,
itu bandara akan diserahkan pada Angkatan Darat, karena memang itu punya angkatan darat. master plan nya kan akan dibuat di kendal spertinya.
titus katro 0 0
lho bertahannya bandara di Kalibanteng justru bukan mengkerdilkan semarang. Justru kalo pindah kendal justru jadi mengkerdilkan dan merusak apa yang selama ini sudah dibangun, selain juga justru merusak tatanan di kota kendal sendiri. Kalo dikendal ada bandara dan A Yani tetep bandara TNI, ya tetep saja Semarang dikerdilkan sana-sini. Tapi justru kalo disinergikan akan jadi kekuatan yang sangat kuat. Semarang tidak akan tumbuh jadi kota yang besar memang, tapi jadi kota yang sangat berkualitas...
nonowaewis 0 0
Serba salah dadine...
titus katro 0 0
Hahaha... ndak serba salah kok mas Nono...
Dipindah salah ndak dipindah lebih ndak salah....

Silahkan login untuk memberikan pendapat