Renungan dalam peringatan Hari Pangan 2010 4
Minggu, 17 Okt '10 20:50
Hari Pangan dunia yang jatuh 16 Oktober tahun ini harus membuat kita semua prihatin akan keadaan yang masih diderita oleh sekitar 31,2 juta orang dari 237,6 juta penduduk Indonesia ( data FAO). Mereka miskin dan lapar, mereka tidak hanya berada di pulau/ daerah terpencil tapi juga terdapat diperkotaan seperti Jakarta, Surabaya, Semarang dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, sebagian besar mereka adalah wanita dan anak-anak.
Apa yang sedang terjadi di Negara yang katanya Gemah Ripah loh Jinawi dan bernama Indonesia ini?. Kalau potret ini tidak dipandang sebagai sebuah kegagalan, alangkah nistanya kita yang merasa menjadi Bangsa yang beradab dan berkeTuhanan yang Maha Esa.
Selama ini pemecahan masalah pangan (juga masalah yang lain) di Negeri Ini selalu dilaksanakan dengan Metode yang enak dipandang setelah itu lupakan ( metode Ci Luk Ba ). Sebuah kasus tidak dilihat secara keseluruhan sampai pada akar masalah yang sebenarnya. Dan yang lebih hebat lagi tidak pernah mau dipandang sebagai sebuah persoalan dasar yang saling terkait dengan departemen lain.
Bagaimana mungkin di Negara yang sangat kaya ini terdapat jutaan anak-anak kurang Gizi?. Dimana para Lurah, Camat, Wali kota, Gubernur daerah tersebut?. Kurang Gizi selalu dihubungkan dengan departemen kesehatan, padahal kalau kita kaji lebih dalam lagi, banyak departemen lain yang harus turun tangan dan bersama-sama menanggulangi masalah ini.
Departemen Pendidikan turun untuk mendidik masayarakat tidak hanya agar melek huruf, tapi juga mengajarkan kepada masyarakat untuk pandai memakai pengetahuan dan Bahasa yang dikuasainya untuk melakukan komunikasi dengan lingkungannya. Departemen kesehatan harus memberikan fasilitas kesehatan dasar agar setiap keluarga di Indonesia dimanapun berada tersentuh oleh pelayanan departemennya. Departemen Agama harus memberikan pengertian bahwa lebih penting untuk membantu saudara-saudara sedesanya mendapatkan kesejahteraan yang baik dari pada pergi berhaji untuk yang ke2 kali atau ketujuh kali. Para aparat pemerintah harus mampu mengenali semua masalah yang dihadapi rakyat yang berada pada wilayahnya masing-masing dengan semua kelemahan dan kekuatan dimiliki, sehingga dapat dilakukan pertukaran yang adil untuk mendapatkan kesejahteraan bersama. Untuk bisa menciptakan itu diperlukan proses distribusi yang dilakukan oleh orang-orang jujur dan amanah.
Kalau sampai sekarang masih kita jumpai (dan dianggap sebagai sebuah kewajaran), bermacam bantuan pemerintah yang diberikan kepada rakyat lewat berbagai departemen selalu sampai di tangan rakyat dalam keadaan tersunat. Apa yang bisa kita baca dari ini selain bahwa pemerintahan kita adalah pemerintahan yang korup, jahat, dan sangat tidak amanah. Sementara kita sebagai warga masyarakat juga tidak melakukan apa-apa, dengan pemikiran “ yah dari pada nggak dapat sama sekali”, bukankah kita ini memang terbukti sebagai bangsa yang lemah?, kita ini orang baik, tapi untuk apa baik kalau keberadaan kita tidak bisa merubah yang salah, yang keliru yang tidak benar?.
Dan yang lebih menyedihkan lagi saat kita ingin mencoba merubah yang salah, lingkungan kita malah mencap kita sebagai pahlawan kesiangan, menganggap kita gila dan konyol. Kekurangan Gizi dan masalah kemiskinan sudah tidak dapat menunggu lagi untuk dicarikan solusi, masalah ini harus mampu merubah dan merombak semua metode penyelasaian yang selama ini dilakukan. President harus malu kalau sampai masa akhir kempemimpinannya hanya akan menambah jumlah angka kemiskinan dan anak-anak kurang gizi di negeri yang kaya raya ini.
Kita tidak akan mau lagi menjadi manusia yang dilabelkan melek huruf yang hanya bermanfaat untuk keperluan data statistik untuk mengurangi angka buta huruf. Kita ingin menjadi manusia yang melek budaya yang paham akan kekayaan dan keragaman yang kita miliki agar tidak dicuri bangsa lain, dan menjadi bangsa yang faham bahwa keberagaman yang ada di Negara kita adalah sebuah anugerah dan bukan sebuah musibah sehingga perlu dilakukan pengekangan-pengekangan.
Wanita kita jangan mau lagi kehilangan harapan hudup di desanya sendiri yang dilanda kemiskinan, sehingga harus menjadi TKW di Negeri orang untuk melakukan pekerjaan paling rendah walaupun halal, yang orang di Negara itupun tidak mau melakukan untuk orang lain.
Anak-anak kita jangan sampai putus sekolah karena kehilangan kesempatan belajar akibat teman-teman mereka dan masyarakat dilingkungannya adalah masyarakat yang kecerdasan sosialnya rendah, padahal mereka mengklaim diri mereka sebagai masyarakat beragama tapi membiarkan anak-anak mereka menghina anak-anak yang tak mampu membayar sekolahnya dan memandang rendah kepada anak-anak yang tak bisa bersekolah . Anak-anak putus sekolah juga disebabkan karena guru mereka, lurah mereka, walikota dan Gubernur mereka tidak mampu memperjuangkan nasib pendidikan mereka.
Untuk bisa mencapai kesejahteraan seluruh masyarakat di Nusantara ini pendidikan, kesehatan, pangan dan harapan hidup harus didistribusikan secara adil, jujur, amanah dan terbuka sampai ke tangan seluruh rakyat Indonesia tak terkecuali dimanapun mereka berada. Semua bangsa di Negeri ini harus diberikan pengertian dimana mereka bisa mendapatkan kemudahan untuk mencari solusi atas masalah yang sedang mereka hadapi dan akan mendapat tanggapan secara jujur dan semestinya.
Pak Wali bisakah Semarang menjadi Pionir untuk gerakkan "Hapus kemiskinan dan kekurangan pangan dari Semarang "
Tag: Hari Pangan, Hapus kemiskinan dan kekurangan pangan dari Semarang
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maknyos: Lheb Godhek
-
nonowaewis: Lheb Godhek
-
jatiblack: Lheb Godhek
-
ToysWorld: Lheb Godhek

Komentar:
semestinya negeri yang katanya agraris ini mampu menjadi penyuplai beras nomor 1 dunia, tapi mana... mana...???? petani tidak disubsidi malah dibebani dengan harga pupuk yg mahal tapi gabah dibeli dengan harga murmer.
Silahkan login untuk memberikan pendapat