Pengemis, Pengamen atau Pekerja Informal? 4

Jumat, 27 Agu '10 22:46

Mendekati lebaran selalu kita jumpai para pencari Rezeky baru, mereka akan menyerbu pasar-pasar tradisional, warung kaki lima dan persimpangan jalan yang ada traffic lightnya. Kadang sulit menyebut mereka apa?, Pengamen, Pengemis atau Pekerja Informal.

Bisa disebut pendatang baru karena memang kita belum pernah melihat sebelumnya, pakaiannya juga belum terlihat lusuh, biasanya mereka lebih PD kalau meminta secara bersama-sama, atau kalau sendiri masih malu-malu. Mereka juga akan mendatangi perkampungan untuk mengemis secara dor to dor, biasanya kalau tidak diberi mereka menggerutu.

Diakui atau tidak kemunculan para pengemis ini sering membuat kita bertanya-tanya, apakah ini sebuah petunjuk bahwa kemiskinan di Negara kita yang katanya Kaya Raya hanya sekedar omong kosong belaka. Atau karena adanya kesalahan besar yang menyebabkan rakyat kecil tidak memiliki kesempatan untuk merasakan nikmatnya kemakmuran. Wallahu Allam Bisawab.

Manusia diberi kebebasan untuk memilih, walaupun terkadang manusia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, ibarat buah si malakama, antara memilih dan tidak memilih sama celakanya. Keadaan ini barangkali yang menjadi penyebab munculnya para pengemis baru setiap menjelang Lebaran, atau mereka memang hanya mengemis saat menjelang Lebaran?.

Dulu orang mengemis akan menempatkan diri di suatu tempat dan duduk menungu orang lewat memberikan sedekah, atau mereka akan mendendangkan lagu yang merdu atau memainkan alat musik yang enak di dengar sehingga orang merasa terhibur dan memberikan sedekah dengan senang hati. Atau kalau harus mengemis di perkampungan biasanya orang kampung sudah mengenalnya, itupun tidak setiap hari datang ketempat yang sama. Para penegmis dulu biasanya adalah orang cacat atau orang yang sudah tua.

Mengemis jaman sekarang justru didominasi kaum muda, dengan bermodalkan alat musik seadanya dan lagu yang dinyanyikan sebisanya saja. Sering karena suaranya yang minta ampun sumbangnya kita segera memberi uang receh agar dia segera pergi. Bahkan ada juga yang berdandan menor berharap akan mendapat uang lebih banyak, atau melakukan beberap trik agar tubuhnya yang sehat terlihat cacat dan penuh luka. Yang lebih bergengsi adalah yang dilakukan diatas Bus oleh kelompok pengamen yang biasanya menyanyikan sebuah lagu yang didahului dengan sedikit pidato menodong penumpang untuk mengeluar kan uang recehan.

Pilihan untuk menjadi pengemis atau pengamen rasanya sulit untuk kita menghakiminya, bagaimanapun kita tidak berada pada posisi yang sama dengan mereka, hanya yang sering membuat kita jengkel dan menjadi tidak ikhlas adalah jika ada unsur pemaksaan dalam Cara mereka melakukan pekerjaannya seperti dengan cara mencolek - colek jika mengemis ditengah keramaian, atau bahkan dengan memperlihatkan pandangan seram sebelum diberi uang. Padahal saat itu kita memang benar-benar tidak memiliki uang recehan. Mestinya Hukum mengemis adalah diberi syukur tidak diberi tidak apa-apa, sementara untuk kita yang berada diseberangnya harus berprinsip memberi boleh tidak memberi tidak apa-apa.

Kalau dipikir terlalu jauh sampai menyangkut amal ibadah akan jadi berat: bayangkan kehilangan Rp. 500,- atau Rp1000,- tidak akan membuat kita miskin atau membuat pengemis kaya, bahkan tidak akan membawa perubahan apa-apa kepada pengemis tersebut, apalagi membuatnya berhenti untuk mengemis.

Memang menyedihkan melihat banyaknya saudara-saudara kita yang terpaksa mengambil jalan menge mis atau mengamen, semetara kita tidak bisa berbuat banyak membantu mereka. Tapi kalau memang pilihan itu yang harus mereka ambil, jadilah pengemis dengan prinsip: diberi Alhamdulillah tidak diberi wasyukurillah, hormatilah orang lain yang memberi atau yang tidak memberi. Karena anda sudah mengambil posisi dibawah bukan berarti otomatis orang lain harus berada diatas dan berkewajiban memberi kepada anda. Sebab siapa tahu yang anda minta sebetulnya kehidupannya tidak lebih mujur dibanding anda.

 

 


Tag: Pengemis, mubal menjelang lebaran

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

nonowaewis 0 0
Itu Yu yang sering saya pikirkan jika mau memberi pada pengemis...dia ini beneran ngemis atau cuma kedok sebagai kerjaan aja?
nolnoli 0 0
jadi ingat salah satu acara politik pada salah satu tv swasta nasional baru-baru ini tentang salah satu bunyi pasal dalam UUD 45, fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. ada komentar bahwa, jika diibaratkan tanaman, apabila dipelihara maka akan semakin berkembang. mungkin karena dipeligara itu, jadi semakin banyak.

tapi mungkin kalo tidak ada mereka, umat manusia juga bingung mau dibayarkan kemana zakat dan fitrahnya.
maknyos 0 0
nonowaewis: kalo pas ada rejeki lebih kalo mo ngasih ya ngasih saja menurut saya. tapi lebih pas lagi di kasih ke yg lebih berhak seperti panti2 asuhan
jatiblack 0 0
Emang kalo ngomong masalah kemisikinan, khususnya GEPENG (Gelandangan & Pengemis) bagai buah simalakama. Kalo dibiarkan bisa mengganggu ketertiban, tapi kalo ditertibkan kok ya kasihan juga. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hufh.......

Silahkan login untuk memberikan pendapat