Mengejar Bubur Pekojan 6

Kamis, 19 Agu '10 05:33

Tentunya jika  Anda penasaran terhadap sesuatu pastinya akan berusaha bagaimanapun caranya untuk mendapatkan atau mengetahuinya. Menyusuri kampung Pekojan disore hari demi memenuhi rasa penasaran yang dua tahun membuncah benar-benar sesuatu yang sangat menyenangkan.

Bayangkan, selama dua tahun saya berada di kota ini, saya gagal menemui apa yang disebut sebagai bubur pekojan atau bubur India karena salah interpretasi.

Awalnya setelah menonton di televisi saya kira bubur itu disediakan di Masjid Agung Semarang atawa Masjid Kauman. Namun setelah bolak-balik buka disana, ternyata tidak ada...hanya nasi bungkus, kurma dan air putih saja. Mengecewakan sih, sampai akhirnya tanya kiri kanan.

Ternyata saya memang salah, lokasi penyediaan bubur India yang cap ratu (alias gratis) itu bukan di Masjid Kauman yang selama ini saya singgahi, melainkan di masjid satunya yang berjarak lebih kurang 1 km kearah timur Masjid Kauman. Ternyata tidak jauh. Menyusuri jalan Petolongan sudah terlihat menara Masjid Jami Pekojan yang konon sudah berusia dua abad. Masjid bercat hijau telor asin disudut jalanan yang berdebu dan acap jadi korban rob ini sudah saya lihat.

Saya masuk ke dalam Masjid Pekojan sembari cari-cari apakah ada bubur yang dimaksud di media selama ini? Oh, ternyata benar adanya. Di teras sebelah utara sudah berjajar manis mangkuk-mangkut bubur yang saat ini diberi topping sayur labu siam (jipang) dan seorang penjaga masjid sibuk menuangkan susu ke gelas-gelas yang masih kosong. Total jenderal ada ratusan mangkuk yang berjajar bak prajurit maju perang ini. Daripada bengong, saya jepretin saja jajaran bubur India yang sering masuk televisi ini.

Karena masih ada setengah jam lagi (saya datang jam 17.00), maka saya langsung wudhu, masuk masjid dan sholat sunnah. Dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah takmir masjid setempat yang -maaf- suaranya kadang kurang jelas seperti menggumam. Sementara saya sendiri konsentrasinya setengah-setengah...antara mendengar khutbah plus melongok jajaran bubur India itu..huahahahaha...

Setelah selesai khutbah yang temanya kurang saya simak karena pecah oleh godaan bubur India ini, semua jamaah langsung berjajar manis menghadap bubur-bubur yang siap disantap ini. Petugas menginstruksikan jamaah untuk memenuhi tempat yang kosong dulu. Jadi ingat barak militer kalau sudah begini. Bubur India dengan lauk hari itu sayur labu siam, krecek dan tahu sudah ada didepan mata..yeach, penantian setelah dua tahun terbayar sudah. Seiris semangka, 4 butir kurma, semangkuk bubur dan segelas susu melengkapi buka puasa saya kemarin.

Saat saya mencicipi bubur itu ketika adzan berkumandang, memang sudah agak dingin, karena sudah disiapkan berjam-jam sebelumnya. Rasanya memang gurih dan rempah-rempah didalamnya yang merupakan warisan pendatang Koja (dibaca kojo oleh orang setempat) yang merupakan keturunan Arab dan India ini cukup terasa meski lembut. Kadang saya mendapati irisan jahe didalamnya sehingga sensasi jahepun masuk didalamnya. Bubur India alias Bubur Pekojan ini hanya tersedia setiap hari selama bulan Ramadhan dan jika ingin menikmatinya harus meluncur dulu ke Masjid Jami Pekojan yang berada di Jalan Petolongan no 1, Kampung Pekojan, Semarang.

Ternyata makan semangkok ini kenyang juga. Apalagi ditambah efek semangka yang segar dan kurma nan manis. Ada rasa puas yang membuncah dalam hati karena setelah dua tahun baru dapat menikmati bubur jenis ini. Katanya, tiap hari lauknya ganti-ganti...kemungkinan besar sih saya akan meluncur kesana lagi jika pulang kerja atau saat libur selama bulan Ramadhan. Siapa tahu lauknya lebih enak dari hari kemarin..hahahaha..

Terkejar sudah bubur Pekojan ini..Alhamdulillah.

Salam hangat


Bambang Priantono
19 Agustus 2010
9 Ramadhan 1431H/ Pasa 1943 Dal
War-Net _


Tag: Semarang, kuliner, cerita

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maknyos 0 0
keren gan...dulu ada pepatah kojo kojan....ora kerjo ora njajan
jatiblack 0 0
Terbayar sudah penantianmu nak........... :-D
nonowaewis 0 0
@maknyos : hehehehee..iyo yo
nonowaewis 0 0
jatiblack : alhamdulillah...wis kebayar
cendol 0 0
nice Inpo nich agan agan, btw udah itung itungan belum piss ; ))
nonowaewis 0 0
cendol : sudah disebutkan kok...cap ratu alias ra tuku..wkwkwkwkwkk

Silahkan login untuk memberikan pendapat