Legenda Semarang: Nyi Tledhek Sekaran Gunungpati 3
Rabu, 28 Jul '10 17:07
JIKA melintas menuju Kampus Unnes dari arah sampangan, Anda akan melihat sebuah bukit batu dengan tinggi sekitar tiga meter. Namanya Bukit Tledhek, terletak di sisi kiri Jalan raya Sekaran. Tepatnya sekitar 200 meter setelah tanjakan (Perumahan) Trangkil.
Konon bukit itu memiliki kaitan dengan legenda berdirinya kampung Sekaran. "Bukit itu merupakan tempat mbahurekso Nyi Tledhek," ujar Mustolih (40) warga Kampung Banaran, RT 02 RW 05 Kelurahan Sekaran, Gunungpati.
Dahulu, bukit tersebut dikenal wingit terutama pada malam hari. Maklum, kala itu kondisinya masih gelap gulita. Listrik dan penerangan masih ala kadarnya.
"Sering ada sosok perempuan yang numpang mbonceng sepeda motor. Kadang berujud gadis cantik, kadang nenek-nenek," ujar pemilik beberapa rumah kos itu.
Pengendara motor yang kepincut biasanya bersedia ngampiri wanita tersebut. "Setelah diboncengkan, tahu-tahu sampai di kuburan," cerita suami dari Ny Dumiyati ini.
Sekarang bukit itu tak wingit lagi. Tetapi bukit batu itu sangat keras. "Dulu hendak dirobohkan menggunakan alat berat untuk pelebaran jalan, tetapi tidak bisa. Buldosernya tidak kuat," ceritanya.
Dakwah Ki Sekar
Menurut Supraptono, dosen Teknik Unnes, dahulu kala hidup sepasang suami istri bernama Ki Sekar dan Nyi Sekar. "Mereka merupakan sesepuh kampung Sekaran, yang yang mbabat alas daerah ini," bebernya.
Sepasang suami istri ini merupakan santri Kyai Telisik. Untuk menyebarkan syiar Islam, Ki Sekar berniat mendirikan pesantren.
Namun niat suci itu dihalang-halangi Kidang Telasik dari Padepokan Ondo Rante. Sebenarnya Kidang Telasik bukan warga asli. "Dia dan pasukannya tengah bersembunyi dari kejaran prajurit Mataram," ujarnya.
Kidang Telasik memang pernah memberontak kepada Mataram, namun kalah. Mereka melarikan diri ke Lemah Abang. Untuk menghindari kejaran pasukan keraton, mereka menyaru menjadi rombongan penari Tledhek.
Setiap hari rombongan kesenian itu berkelana, menggelar pertunjukkan dari kampung ke kampung sembari menyusun kekuatan. Sampai akhirnya menetap di sebuah kawasan pegunungan yang dirasa aman.
Namun keberadaan Kidang Telasik di kampung mengusik ketemtraman. Dia berani menculik Nyi Sekar. Pertempuran antara santri Ki Sekar melawan pasukan Padepokan Ondo Rante pun pecah.
Kidang Telasik dibantu adiknya yang bernama Joko Trangkil. Namun akhirnya, bala tentara Kidang Telasik berhasil ditumpas.
Beberapa nama tempat di kawasan itu memiliki kaitan dengan legenda tersebut. Di antaranya kampung Trangkil, dinisbatkan dari Joko Terangkil. Adapun Bukit Tledhek merupakan tempat Nyi Tledhek.
"Setelah wafat, Ki Sekar dan Nyi Sekar dimakamkan dekat Sendang Kuok, di belakang Kampus Fakultas Ilmu Sosial (FIS)," cerita Mustoloh.
Hingga kini, makam tua itu masih lestari. Tak jauh dari makam, terdapat air terjun bernama Curug Sikidang, yang diduga juga berkait dengan sosok Kidang Telasik.
Berkat dakwah yang dilakukan Ki Sekar, kini kawasan ini berkembang mennjadi daerah religius. "Ada banyak pesantren di tempat ini, di antaranya Ponpes Durrotu Aswaja (Banaran) dan Al Asror (Patemon)," jelasnya. ***
Tag: legenda Semarang, Sekaran, Gunungpati
Terkait:
-
Perajin Rebana dari Pongangan, Gunungpati
Selasa, 20 Sep '11 21:13 -
Begadang Asik di Angkringan Sekaran
Jumat, 1 Jul '11 02:31 -
Legenda Semarang: Sedayu Tugu Sembungharjo
Selasa, 6 Jul '10 00:02
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maknyos: Jos Gandhos
-
jatiblack: Lheb Godhek
-
nonowaewis: Lheb Godhek
-
endahyellow: Lheb Godhek
-
lakone: Lheb Godhek

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat