Geliat Parkour Semarang 9
Rabu, 28 Jul '10 16:59
Bak Spiderman, para traceurs mahir merayap dinding dengan tangan kosong. Puncak kubah Java Mal pun pernah mereka taklukan. Tapi paling takut sama satpam.
JIKA tak melihat sendiri, Anda barangkali tak percaya. Anak-anak muda pecinta olahraga Parkour ini begitu lincahnya berlari dan meloncat bak terbang. Tubuh-tubuh kokoh itu seakan begitu ringannya sehingga tembok setinggi tiga meter pun bisa dengan gampang ditaklukan. "Inilah yang disebut parkour, atau nama aslinya parcours da combattant," ujar Yudha Yogas Mahendra, ketua Parkour Semarang dengan nafas tersengal.
Saat diwawancarai, mahasiswa Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata itu tengah asyik berlatih di Taman KB. Beragam atraksi dia lakukan, dari yang sederhana seperti jumping (melompat), vertical wall run, (memanjat dinding) hingga yang sulit seperti flag (berkibar seperti bendera).
Parkour kerap dijuluki seni melarikan diri. Meski tak sepenuhnya sepaham, Yudha mengiyakan. Olahraga yang diciptakan David Belle, lelaki kelahiran Perancis tahun 1973 ini memang didominasi berlari. "Filosofi utama parkour adalah berlari secepat mungkin. Jika bertemu rintangan, harus bisa mengatasi. Misalnya ketemu tembok, ya dilompati. Atau ketemu tempat yang lebih rendah, ya terjun," ujar Yudha.
Yudha mengatakan, Parkour juga termasuk seni beladiri. "Saat bertemu musuh, lantas lari terbirit-birit juga namanya bela diri," jelasnya.
Latihan Tanpa Izin
Wah, seperti maling, dong? "Kalau disalahgunakan, bisa juga menjadi ilmu maling," ujar Oktaviano, traceur yang baru lulus dari SMA Negeri 1 Semarang sembari terkekeh.
Menurut remaja asal Kalisari ini, gerakan parkour dibagi tiga tahap yakni basic, pro, dan advanced. "Gerakan advanced di antaranya gap jumping atau balance," jelasnya.
Gap jumping merupakan teknik melompati dua tempat terpisah. "Misalnya melompat dari atap satu gedung ke gedung lain," jelasnya. Adapun balancing berarti meniti titian sempit.
Mengapa para traceur bisa lihai melakukan aksi-aksi menakjubkan itu? Menurut Okky Safitri, siswa SMK negeri 2 Semarang, teknik parkour tak sulit dipelajari. "Tekniknya bisa dipelajari. Teknik jatuhan misalnya dengan menggunakan ujung kaki," ujar cewek manis yang penah terjun dari gedung setinggi tiga meter ini.
"Saat melompat dari ketinggian, gunakan ujung kaki depan saat menjejak tumpuan. Jika dilakukan secara benar, tak akan cedera," ujar gadis warga Jalan Sapta Marga Jatingaleh ini.
Selain itu, stamina dan kelenturan tubuh juga harus terus diasah. Untuk itu, komunitas beranggota 42 orang ini rajin berlatih. "Seminggu tiga kali," ujat Nawa Reza, siswa Kelas III IPA SMA Negeri 6 Semarang.
Saban Rabu sore, mereka latihan bersama di Taman KB. Adapun Kamis di Kampus Unika, tetapi khusus traceur kategori advanced. "Sedangkan Sabtu kami berlatih tekik freerun di Gedung Seng, Theresiana (depan Stadion Diponegoro-red)," ujar Ferdin Luki, seorang traceur senior yang juga mahasiswa Planologi Undip.
Gedung Unika Soegijapranata dijadukan tempat latihan karena banyak gedung tinggi. Sehingga para traceurs bisa menyalurkan hobi meloncat di antara gedung-gedung. Tetapi, mereka melakukannya tanpa izin. "Pernah minta izin, tetapi ditolak. Pihak kampus khawatir jika terjadi kecelakaan," ujar Yudha.
Karena tapa izin, bisa ditebak mereka harus kucing-kucingan dengan satpam. "Kita latihan diam-diam, merayap dan melompat di antara gedung," jelasnya.
Kalau ketahuan, bagaimana? "Ya lari terbrit-birit. Namanya juga parkour, seni melarikan diri," ujar Yudhas. ***
Terkait:
-
Nikmatnya Bersepeda Malam Hari (Nite Ride) bersama teman2 membelah Semarang Timur
Selasa, 7 Sep '10 11:46 -
Ketika Pesepeda Menginvasi kota Semarang...kringkring gowesgowes...
Senin, 30 Agu '10 20:37 -
Berbagi Kasih Bersama Anak Yatim dari Komunitas Onliner Semarang
Senin, 30 Agu '10 08:53

Komentar:
Ternyata di Semarang sudah ada to??
Harus ngintip mereka latihan nich....
kalau mau ikutan ada batasan umur nggak ya?
Silahkan login untuk memberikan pendapat