Gamang Gambang Semarang 2
Senin, 26 Jul '10 10:46
Tahun 1950-an masyarakat Semarang diguncang egolan lele Nyah Sam. Kini gambang Semarang terguncang-guncang bertahan hidup.
Sore pertengahan Juli 2010. Kakek itu duduk terpekur di teras rumah di gang kecil Jalan Kentangan, Semarang. Rumah sekira 3x5 meter itu hanya terdiri atas dua ruangan. Bagian depan sebagai ruang tidur dan bagian belakang sebagai dapur. Dari mulut lelaki itu terus mengepul asap rokok murahan.
Di halaman ada pohon mangga manalagi yang tidak memberikan keteduhan. Di bawahnya teronggok gambang, bonang, demung, saron, dan peking. Sedangkan bilah-bilah gamelan disimpan di dalam rumah mungil yang dihuni lima anggota keluarga itu. Tak ada perabot di ruang depan, kecuali sebuah dipan, tikar, dan kotak kayu yang dijadikan lemari.
Jayadi, lelaki tua itu, terus mengepulkan asap rokok. Pandangannya menerawang. Lelaki 69 tahun ini satu-satunya pemain Gambang Semarang generasi keempat yang masih tersisa.
Mengawali obrolan, Jayadi mengeluhkan ketidakpedulian pemerintah terhadap musik dan pelaku Gambang Semarang. Satu per satu rekannya dalam kelompok gambang meninggal dalam kemiskinan. "Kepala Daerah sekarang benci Gambang. Lagu ciptaan Pak Kelly Puspita dengan syair Semarang kaline Banjir dianggap menjelek-jelekkan Semarang. Padahal, memang benar sungai di Semarang itu Banjir. Itu nama sungai, bukan banjir sesungguhnya," ujarnya.
Sejak dianggap menghina kota, Gambang Semarang mulai sepi order dan tidak pernah lagi dilibatkan dalam kegiatan pemerintah. Padahal, gambang sudah menjadi ikon kesenian Kota Semarang.
"Gambang Semarang sesungguhnya tidak beda jauh dengan gambang kromong Betawi. Peralatan gambang Semarang yang pertama memang dari gambang kromong Betawi. Ini gamelan Jawa, namun tidak menggunakan laras pentatonis sebagaimana gamelan. Alat musiknya gamelan laras diatonis tidak lengkap. Saya sebut tidak lengkap karena tanpa menggunakan nada fa dan si," papar Jayadi.
Gambang Semarang didirikan tahun 1939 oleh Toako Lie Hoo Soen, salah satu orang kepercayaan raja gula Asia Tenggara Oei Tiong Ham. Pada masa inilah lahir lagu "Gambang Semarang" karya Oey Yok Siang, musisi Tionghoa asal Magelang.
Pada tahun 1945 kelompok musik Gambang Semarang mencapai puncak kejayaan yang pertama. Kelompok ini pentas di mana-mana, khususnya di sejumlah pasar malam yang kala itu merupakan sarana hiburan utama masyarakat. Pada puncak kejayaannya inilah lahir ikon Gambang Semarang, yakni Nenny dan Mpok Royom.
Namun, tahun itu pula, saat manggung di Magelang, tiba-tiba tempat pentas dibombardir tentara Jepang. Para peronel Gambang Semarang tercerai berai. Peralatan musiknya hancur. Nenny dan Mpok Royom juga lenyap.
Aksi Kucing
Jawahir Muhamad, budayawan Semarang, menuturkan, peristiwa Magelang menjadi titik balik perjalanan Gambang Semarang mencari jati diri. Beberapa personel yang tersisa membentuk kelompok sendiri dengan musik buatan sendiri.
"Lirik lagunya sangat sederhana dan kocak. Seperti lagu ‘Aksi Kucing'. Itu hanya empat baris. Apa guna bung malu-malu kucing. Sudah menerkam sebelum berunding. Aksi kucing membuat perselisihan. Salah-salah dari kawan jadi lawan. Lirik lagunya cuma itu," kata Jawahir.
Menurut Jawahir, pada tahun 1970-an Gambang Semarang kembali meraih puncak kejayaan. Lahir maskot Nyah Sam atau Ong Sam Nio, yang dikenal dengan egolan lele.
Jawahir berani menduga lagu "Aksi Kucing" menginspirasi "Kucing Garong" yang dibawakan Trio Macan dan egolan lele Nyah Sam menurunkan goyang ngebor dan seabrek goyang lain.Yang menarik dan membedakan Gambang Semarang dari Gambang Kromong Betawi, karena sebagian besar penari dan penyanyinya kaum trans-seksual.
Seiring meninggalnya tokoh-tokohnya seperti Subandi dan Sunoto, Gambang Semarang kembali tenggelam. Baru pada tahun 1980-an kembali menggeliat. Itu pun tak lama. Gempuran budaya instan tak tertahan.
Nafas Baru
Memasuki tahun 2000-an, bukan tak ada lagi gerakan membangkitkan Gambang Semarang. Pemerintah pun mulai campur tangan. Dinas Pendidikan Kota Semarang mulai memfasilitasi pementasan Gambang Semarang di sejumlah tempat. Aksi ini didukung Pemeritah Provinsi Jawa Tengah.
Agus Supriyanto, inspirator kebangkitan Gambang Semarang, mengaku perlu menata ulang tarian. "Itu dilakukan agar Gambang Semarang bisa menjadi tari pergaulan atau tarian selamat datang. Ternyata kami kesulitan. Warga Semarang asli, dalam arti lahir dan besar di Semarang, ternyata tidak mengenal musik dan lagu-lagu Gambang Semarang," katanya.
Naryanto SKar selaku komposer dari gerakan revitalisasi gambang Semarang tahun 2000-an menyatakan gambang Semarang memiliki potensi kekuatan yang bagus untuk tetap bertahan di tengah invasi budaya instan.
"Saya hanya menata musiknya. Menambah sedikit introduction dan itu murni untuk kepentingan sajian belaka. Saya sempat kaget setelah tahu gambang Semarang adalah gamelan diatonis jenis slendro. Maksudnya, gamelan dengan laras seperti alat musik modern, namun meninggalkan nada fa dan si. Itu jelas sekali terungkap dalam lagu ‘Gado-gado Semarang' karya almarhum Pak Kelly Puspita," kata Naryanto Skar, yang menjabat Kepala Bank Jateng Cabang Sekretariat Provinsi.
Upaya menata ulang tarian dan musik gambang Semarang mau tidak mau meninggalkan spontanitas penarinya. Pada masa jayanya penampilan gambang Semarang tak ubahnya pentas tayub atau ronggeng. Tidak ada gerakan baku dalam koreografinya. Semuanya nyaris serba spontan dan egaliter. Tak ada jarak antara penari dan penonton.
Jawahir Muhamad menyebutkan upaya itu sesungguhnya untuk menghilangkan kesan erotis dan bebas. Namun dampaknya memang menjadi berjarak. Penonton tidak lagi bisa membaur dengan penari. "Dalam disiplin ilmu kesenian, hal itu bisa dimengerti. Apalagi saat ini aturan tentang etika juga sangat kuat di masyarakat," katanya.
Agus Supriyanto yang menggubah tarian Denok Semarang dan Tari Semarangan dengan iringan musik Gambang Semarang menyebutkan, meskipun tarian lebih ditata namun ia memanfaatkan gerakan dasar para penari Gambang Semarang di masa lalu.
"Salah satu yang kami adopsi adalah goyang egolan lele Nyah Sam. Bagaimanapun pada masa Nyah Sam, gerakan itu menjadi trade mark kesenian gambang Semarang. Jadi, kami berharap goyangan itu bisa mengingatkan pada eksistensi gambang Semarang. Kami juga tetap melibatkan Pak Jayadi yang memahami gambang Semarang," kata Agus.
Hal yang sama dilakukan Naryanto. Dia tidak mengubah sedikit pun komposisi musik dan lagu. "Tak ada sedikit pun niat untuk mengaransir ulang dengan mengubah nada yang dipakai. Untuk menjaga roh gambang Semarang, kami juga mengajak Pak Jayadi sekaligus sebagai kontrol agar penataan yang kami lakukan tidak kebablasan," katanya.
Kerja bareng Agus Supriyanto, Naryanto Skar, dan Jayadi cukup menggugah perhatian pemerintah. Gambang Semarang akhirnya menjadi duta seni khas Semarang dan mewakili Jawa Tengah.
Persoalan berikutnya adalah upaya mengembalikan kesenian itu kepada masyarakat Semarang. "Untuk mengembalikan memang perlu gerakan yang lebih masif. Bisa saja tiap kecamatan atau kelurahan dibentuk kelompok gambang Semarang, sehingga saling berkompetisi. Yang perlu dibedakan adalah namanya, mungkin dengan nama gambang Semarang baru atau neo gambang Semarang dan seterusnya. Hal itu untuk menjaga orisinalitas dan membedakan antara kelompok yang masih eksis dan secara historis memiliki kaitan dengan masa lalu," kata Jawahir.
Kelompok kolaborasi Agus Supriyanto, Naryanto Skar, dan Jayadi pentas terakhir tahun 2003. Sejak itu tak ada lagi pementasan gambang Semarang.
Bangkit Kembali
Belakangan ini semangat Jayadi bangkit kembali. Dia menghubungi Eko Setia Tjondrohartono, pemimpin kelompok seni Tionghoa Hoo Hap. Selama ini Hoo Hap lebih fokus menghidupkan kesenian barongsay dan liong samsi.
Gayung bersambut. "Ketertarikan kami, karena gambang Semarang kesenian asli kita yang ditinggalkan salah satu petinggi Hoo Hap, yaitu Toako Lie Hoo Sien. Kami berharap beliau bangga dengan upaya kami. Sekarang kami berusaha memainkan gambang Semarang menjadi salah satu pelengkap pementasan barongsay atau liong samsi," kata Eko Setia.
Jayadi lalu mencari orang-orang yang bersedia berlatih gambang Semarang. Meski belum ada sebulan ini, upaya menghidupkan kembali gambang Semarang mulai terdengar. Beberapa remaja tertarik dan bergabung. Mereka berlatih menari gambang Semarang baru dengan koreografi gubahan Agus Supriyanto.
Jayadi berlapang dada melihat gambang Semarang "baru". "Bagi saya tidak masalah. Yang penting gambang Semarang bisa terus hidup," katanya.
Sayup-sayup "Gambang Semarang"-nya Oei Yok Siang terus mengalun.
ampat penari kian kemari
jalan berlenggang, aduh...
langkah gayanya menurut suara
irama gambang
sambil bernyanyi, jongkok berdiri
kaki melintang, aduh...
sungguh jenaka tari mereka
tari berdendang
Sumber foto dan tulisan dari sini
Tag: gambang semarang

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat