Tugu Muda 4
Jumat, 9 Jul '10 12:45
Jakarta punya Tugu Monumen Nasional (Monas), Surabaya juga punya Tugu Pahlawan, dan Semarang jelas punya Tugu Muda. Tugu yang menjadi saksi perjuangan para pejuang Semarang dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang ini masih tetap berdiri kokoh diantara himpitan hotel, mal, dan beraneka gedung bertingkat lainnya.
Letak Tugu Muda berada di tengah-tengah antara Jl. Pandanaran, Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Sugiyopranoto, Jl. Kalisari, dan Jl. Simpang. Keberadaannya dikelilingi oleh gedung-gedung yang juga memiliki keterkaitan sejarah dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang, diantaranya adalah Gereja Katedral, Museum Mandala Bhakti, dan Lawang Sewu.
Pembangunan Tugu Muda mulai dikerjakan pada bulan Mei tahun 1952. Letaknya bergeser dari rencana semula, yaitu di tengah alun-alun Semarang dan bergeser di Simpang Lima jl. Pemuda, tepatnya di tengah-tengah Taman Merdeka. Tempat berdirinya Tugu Muda merupakan salah satu kawasan pertempuran yang sangat penting, dan merekam tidak sedikit peristiwa-peristiwa yang penting pula.
Pada tahun 1949 tercetuslah gagasan olehh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia atau BKPI untuk membangun kembali 'Tugu Muda' yang pada saat itu kota Semarang telah diduduki Belanda. Pada rapat BKPI tanggal 20 November dibentuk panitia untuk menangani pembangunan Tugu Muda dan makam pahlawan, sekaligus untuk memindahkan jenasah para pahlawan yang waktu itu masih berserak di berbagai penjuru kota. Panitia itu bernama Panitia Pembaharuan Tekad Pemuda.
Pada rapat BKPI tanggal 5 Maret 1950, Panitia Pembaharuan Tekad Pemuda dibubarkan. Kemudian dibentuk lagi panitia pembangunan dengan pengurus
Ketua : Salim
Bendahara : Moh Tosjun Arif, Suprapto, Soepirman
Bagian Usaha : S. Tjipto
Namun karena besarnya biaya yang akan dikeluarkan, maka kedua pembangunan tersebut dibiarkan terkatung-katung.
Pada tanggal 13 Oktober 1951 dalam rapat di ruangan DPRD bersama dengan Mr. Wongsonegoro yang saat itu menjabat sebagai Menteri PP & K, walikota Semarang yang saat itu dijabat oleh Hadisoebeno Sosrowerdojo mengemukakan keinginannya untuk melanjutkan kembali pembangunan Tugu Muda. Terbentuklah Panitia Tugu Muda, dengan susunan panitia sebagai berikut:
Ketua : Hadisoebeno Sosrowerdojo
Wakil Ketua : Kolonel Dr. Soehardi, Aboebakar, dan Imam Choermain
Penulis : Salim
Bendahara : Tan Hong Hie
Pembantu : I. Ramelan
Bagian Teknis : Ir. Oerip Imam Soedjono, Mohamad, Soetardi, S. Soeroso, dan para pembantu
Bagian Usaha : Tan Tjien Lien, Mr. Soejoedi, Oei Kiem Hie, Aloewi Tjitroatmojo, dan para pembantu
Bagian Publikasi : Soepono, dan para pembantu.
Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 1951, dilakukan peletakkan batu pertama oleh Gubernur Jawa Tengah yang saat itu dijabat oleh Budiono. Kemudian pada tanggal 20 Mei 1953 tepatnya pada pukul 09.25 pagi, Tugu muda diresmikan oleh Presiden Soekarno bertepatan dengan Hari Pembangunan Nasional.
Biaya pembangunan yang direncanakan semula Rp. 30.000,00 melonjak menjadi Rp. 182.881,81 karena kenaikan harga bahan dan lain-lain. Uang tersebut sebagian besar diperoleh dari para dermawan di Kota Semarang, disamping dari Kementrian PP&K yang telah memberikan sumbangan sebesar Rp. 30.000,00.
Tugu Muda berbentuk tinggi meruncing dengan lima buah sangga pilar yang selain untuk menggambarkan berbagai macam relief, juga dimaksudkan sebagai lambang Pancasila. Batu-batu yang dipergunakan sebagian berasal dari daerah Kaliurang dan sebagian lagi berasal dari daerah Pakem dan sekitarnya. Pada tiap-tiap sangga terdapat hiasan-hiasan yang berbeda satu sama lain, di antaranya ialah:
1. Relief Hongerodeem, yang dipahat olah Eddy Soenarso. Relief tersebut menggambarkan kehidupan rakyat Indonesia pada jaman penjajahan Belanda dan jepang yang tertindas dan banyak yang menderita kelaparan, hingga hongerodeem atau penyakit busung lapar pada waktu itu merajalela di kalangan masyarakat.
2. Relief Pertempuran, dipahat oleh Joeski dari Aceh. Relief ini menggambarkan betapa besar gelora semangat serta keberanian Angkatan Muda di Semarang dalam Pertempuran Lima Hari, untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara.
3. Relief Penyerangan, dipahat oleh Bakri dari Aceh. Relief tersebut melambangkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap pihak penjajah untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
4. Relief Korban, dipahat oleh Nasir Bondan untuk menggambarkan bahwa dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang banyak rakyat yang menjadi korban.
5. Relief Kemenangan, dipahat oleh Djony Trisno dari Salatiga. Relief tersebut menggambarkan hasil jerih payah dan pengorbanan yang telah membasahi bumi kota Semarang.
Adapun rencana Tugu Muda itu sendiri dikerjakan oleh Salim, salah seorang anggota Panitia Tugu Muda, sedangkan rencana reliefnya dikerjakan oleh Hendro.
Tugu Muda merupakan hasil kreatifitas orang-orang yang penuh dengan semangat untuk menciptakan sebuah tugu yang didedikasikan bagi para pahlawan. Hal ini seperti mengindikasikan bahwa semangat anak muda Semarang harus tetap terus berkobar untuk berkreatif demi memajukan kota Semarang tercinta.
Gambar diambil dari sini
Tag: opojal-starone-1
Terkait:
-
Pasar Prembaen
Rabu, 14 Jul '10 09:46 -
Drs. Kariadi
Selasa, 13 Jul '10 10:39 -
Kampung Blok M di Semarang
Selasa, 13 Jul '10 01:33
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
jatiblack: Sip Tenan
-
maknyos: Lheb Godhek
-
TiRoZ: Sip Tenan
-
andhika: manteb nda
-
cilikiyik: manteb nda
-
endahyellow: Sip Tenan
-
cah kalibanteng: Jos Gandhos

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat