Legenda Semarang: Sapi Watu Penggaron Lor 2
Rabu, 7 Jul '10 00:06
Sebuah artefak berbentuk patung sapi teronggok di sebuah kebun pisang di Penggaron Lor. Diduga peninggalan Kerajaan Demak.
Betapa malang sapi berjenis kelamin jantan itu. Selama puluhan tahun dibiarkan nderum di kebun pisang dusun Klithak Penggaron Lor, Genuk. Bayan setempat Mat Bakri yang sudah puluhan tahun menjadi juru kunci mengaku tak punya "hak" menggembala situs bersejarah itu. Kini di tempat itu tinggal tersisa empat artefak. Sisanya raib entah kemana."Dulu banyak tapi sudah diangkut petugas. Katanya dibawa ke museum tapi kurang tahu museum mana," ujar Ny Rasmi, tokoh sepuh di dusun itu.
Warga setempat menyebut situs tersebut sapi watu. Dinisbatkan dari patung berbentuk sapi jantan duduk menghadap utara. "Sapinya jantan, ini kelihatan alat kelaminnya," ujar Mat Bakri.
Tak banyak warga dan pejabat setempat yang mengetahui keberadaan situs sejarah itu. Para staf kelurahan setempat mengaku mengetahui keberadaan situs itu, tapi tak paham sejarahnya. Lokasinya terpencil, di sebelah timur Kali Babon. Selain patung sapi setinggi sekitar 30 cm, di situs itu terdapat dua buah umpak (semacam dandang batu) dan pahatan batu berbentuk persegi.
Menurut Mat Bakri situs tersebut ditemukan bulan Agustus tahun 1965. "Saya masih ingat karena waktunya hampir bersamaan dengan gegeran PKI," ujarnya.
Saat itu dia menjabat sebagai Bayan di Kelurahan Sembungharjo. Sebagai pejabat desa dia berhak atas bengkok di dusun Klithak (waktu itu masuk Kelurahan Sembungharjo).
Oleh dia tegalan itu ditanami tanaman singkong, pisang, dan sayur mayur. Nah suatu ketika saat bekerja cangkulnya terantuk benda keras. Setelah digali beberapa centimeter, dia menemukan patung sapi. Menyadari ada "sesuatu" Bakri segera pulang. Berhari-hari dia memikirkan temuan itu sampai akhirnya bermimpi ditemui orang tua untuk "mengamankan" benda tersebut. "Nang ngisor lemahmu kuwi ono barange. Tulung rumatono (Nak, di bawah tanahmu ada benda-benda. Tolong dirawat)," demikian pesan orang tua dalam mimpinya.
Tepat hari Selasa kliwon, warga menggali tanah di lokasi temuan. "Saya tidak berterus terang kepada warga kalau ada patung di tempat itu. Alasan saya akan membuat sumur."
Diangkut Petugas
Penggalian belum mencapai setengah meter, beragam patung mulai ditemukan. Semua terbuat dari pahatan batu berwarna hitam. Ada patung berbentuk masjid, orang duduk bersila, umpak, dan benda-benda lain.
Kampung kecil itu pun geger. Pengunjung mulai berdatangan. Kabar itu akhirnya sampai ke teling petugas pemerintah. Belasan artefak kuno itu pun diangkut untuk dibawa ke museum. Tapi warga tak paham museum yang mana. Adapun empat artefak ditinggal atas permintaan warga.
Kini sisa-sisa artefak itu teronggok di kebun pisang. Menurut Mat Bakri, kebun pisang itu dimiliki Yayasan Pembina PGRI.
Meski warga memintanya menjadi juru kunci, Mat Bakri enggan merawat situs sejarah itu. "Saya takut dikira melik. Dianggap punya pamrih menggarap tanah itu," ujar pria sederhana itu.
Dulu situs itu sering di-tiliki pejabat dan tokoh masyarakat. Dari "buku absensi" tertera beberapa tokoh yang menyambangi situs itu. Mereka sowan untuk ngalap berkah. Mat Bakri sendiri tak percaya ada kekuatan mistik di balik benda bersejarah itu. "Itu hanya batu biasa. Tapi saya yakin merupakan peninggalan zaman kerajaan kuno."
Kerajaan apa? "Mungkin kerajaan Islam Demak karena ada patung masjid," jawabnya pendek.
Modin setempat Faizin SE tak sepenuhnya sepakat. "Bisa juga situs Hindu karena ada patung berbentuk sapi," tandasnya.
Agar tak simpang siur, dinas terkait sebaiknya segera meneliti situs tersebut. Mumpung sisa-sisa artefak itu masih ada, mumpung di atas tanah itu belum didirikan bangunan, serta mumpung Mat Bakri yang kini berusia 82 tahun masih sugeng.
Tag: opojal-starone-1, sapi watu
Terkait:
-
Pasar Prembaen
Rabu, 14 Jul '10 09:46 -
Drs. Kariadi
Selasa, 13 Jul '10 10:39 -
Kampung Blok M di Semarang
Selasa, 13 Jul '10 01:33
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maknyos: Lheb Godhek
-
jatiblack: Sip Tenan
-
endahyellow: Lheb Godhek
-
cilikiyik: Lheb Godhek

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat