Legenda Semarang: Sumur Walisongo Pedurungan 2
Kamis, 24 Jun '10 00:41
Di Pedurungan terdapat sembilan sumur yang tepat berada pada sebuah garis lurus. Konon merupakan peninggalan Walisongo.
LIDAH memang tak bertulang, begitu kata pribahasa. Jaman sekarang, betapa mudah orang mengumbar kebohongan. Padahal ada peribahasa, sopo salah bakal seleh.
Untuk membongkar kepalsuan, barangkali bisa menggunakan air sumur Mbah Kliwon. Salah satu dari sembilan sumur peninggalan Walisongo di kecamatan Pedurungan. Sumur Mbah Kliwon berada di di Jalan Jaten I Pedurungan Tengah.
Dulu sering digunakan untuk "mengadu sumpah". Jika ada dua orang yang mengklaim sama-sama benar, keduanya disuruh minum air sumur ini. "Yang dusta akan terkena sengkala (musibah), bahkan meninggal," ujar Mbah Palil (83) yang rumahnya berjarak beberapa meter dari sumur tua itu.
Menurutnya, cerita ini tidak mengada-ada. Seingatnya sudah ada tiga orang yang menjadi "korban" keampuhan air sumur yang dirindangi pohon gayam berusia ratusan tahun itu.
Salah satunya adalah Dulkhamid warga kampung Bugen Kelurahan Tlogosari Wetan. Pria mata kranjang itu menghamili gadis tetangganya sendiri. Saat dimintai tanggung jawab, dia menolak. Atas musyawarah warga, Dulkhamid dan pacarnya diminta menjalani ritual memimum air sumur Mbah Kliwon. "Selang beberapa hari Dulkhamid meninggal," cerita Mbah Palil.
Keajaiban sumur ini sebenarnya bisa diamati secara kasat mata. Bayangkan, kedalamannya hanya sekitar tiga meter namun mengeluarkan air yang jernih. Saat diteguk rasanya mak nyes, dingin dan menyegarkan. Tak asin seperti galibnya sumber air di kawasan tersebut.
Tapi tak sebarang orang bisa memanfaatkan air suci itu. "Jika digunakan untuk tujuan maksiat akan berubah menjadi keruh," ujar Mbah Palil yang kini menjadi Takmir Masjid Madyo Mangun Karso (Masjid Panut) itu dengan sungguh-sungguh.
Menurutnya. bagian dinding sumur terbuat dari kayu jati. Bentuknya kotak, tidak bulat seperti umumnya.
Sumur Mbah Kliwon merupakan sumur nomor dua. Total ada sembilan sumur. Jika diurut kesembilan sumur itu berada dalam satu garis lurus. Semuanya memiliki karasteristik sama. "Airnya bening dan segar. Dinding bagian dasar terbuat dari kayu jati," ujarnya.
Jika diurutkan dari arah selatan, sumur pertama berada di kampung Palebon. Namun sudah mati karena dibom tentara Belanda. Kedua adalah sumur Mbah Kliwon. Nomor tiga dan empat di Belakang kos-kosan Pak Roni dan rumah Sudarno (RT 05 RW 08).
Sumur kelima di Rumah Pak Limin (RT 02 RW 04), nomor enam di halaman Pak Rohmat namun sudah mati. Nomor tujuh Masjid Baitul Muttaqin (jalan Kyai Abdul Manan Tlogosari Wetan) serta terakhir di halaman rumah H Sayuti kampung Tlogo Pacing. Namun versi lain menyebutkan, sumur terakhir di Kampung Sumur Adem Kelurahan Bangetayu Kulon Kecamatan Genuk.
Perihal asal nama kampung Tlogo Pacing, Mbah Palil mengatakan karena jaman dahulu terdapat telaga yang ditumbuhi Pohon Pacing. Bentuk batang dan daunnya mirip pohon lengkuas. Tingginya hanya beberapa centimeter. Karenanya kawasan itu diberi nama Kampung Tlogo Pacing. "Tetapi sekarang banyak yang salah kaprah, menyebutnya Kampung Tlogo Pancing," jelas pria kelahiran 1926 ini.***
Tag: opojal-starone-1, legenda Semarang, sumur walisongo, pedurungan
Terkait:
-
Legenda Semarang: Sedayu Tugu Sembungharjo
Selasa, 6 Jul '10 00:02 -
Legenda Semarang: Mbah Nuriman Tegal Kangkung
Senin, 21 Jun '10 23:49 -
Legenda Semarang: Bukit Srendeng Ngaliyan
Senin, 21 Jun '10 01:13

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat