Legenda Semarang: Bukit Srendeng Ngaliyan 0

Senin, 21 Jun '10 01:13

Ditilik dari lokasinya saja sudah terlihat jika Sendang Srendeng di bukit Srendeng, Ngaliyan merupakan tempat wingit. Jika tak wingit, bagaimana mungkin dari sebuah bukit gundul setinggi belasan meter di Kelurahan Wates Kecamatan Ngaliyan terdapat tuk (sumber air) yang tak asat meski didera kemarau?

"Oleh warga, Sendang Srendeng sering disebut sendang panguripan karena merupakan sumber penghidupan bagi warga sekitar," ungkap Sujar juru kunci punden keramat tersebut.

Menurut pria beranak tiga tersebut, sendang petilasan Syekh Maulana Malik Ibrahim ini sering digunakan untuk melakukan ritual mencari jodoh. "Para gadis, bujang, janda, atau duda yang sulit jodoh bisa dipermudah dalam mencari pasangan hidup melalui lantaran sendang ini," jelasnya.

Makanya, meski susah dijangkau, sendang ini sering dikunjungi orang yang memiliki karep. Mayoritas memang yang mencari jodoh. Tetapi ada juga yang ingin menambah peruntungan untuk menjadi tentara, polisi, atau PNS.

Biasanya ritual dilakukan hari kamis (malam Jumat). Di tengah pekatnya malam yang melingkupi area hutan jati milik Perhutani, pengunjung rela berjalan kaki untuk mencapai sendang keramat itu.

Menurut Sujar, sebenarnya sendang yang dirimbuni pohon jambu klampok berusia ratusan tahun itu bukanlah mata air, melainkan comberan. "Tetapi bukan sembarang comberan, karena merupakan bekas buangan air wudhu Syekh Maulana Malik Ibrahim," ujarnya.

Sendang itu ditemukan ratusan tahun silam oleh seorang pencari daun jati bernama Nyi Klumpuk. Kala itu, usai mengumpulkan rencek, gadis cantik itu bermaksud istirahat di bawah pohon Ploso di sebuah grumbul bukit Srendeng. Tiba-tiba dia menemukan sendang dengan lantai dan tembok emas. Juga tersedia gayung dari emas. Namun Nyi Klumpuk yang memiliki hati jujur tak melik dengan harta rajabrana. Dia hanya numpang mandi untuk kemudian pulang.

Di tengah perjalanan dirinya bertemu sesama pencari daun jati yang merasa heran melihat rambut dan badannya yang basah. "Lho, kamu mandi di mana," tanya kawannya.
Nyi Klumpuk menunjuk ke pohon Ploso. Namun saat ditengok, sendang tersebut telah menghilang (mukso). Grumbul itulah yang merupakan tempat asli mata air srendeng. Di tempat itu, Syekh Maulana Ibrahim yang kelahiran Turki sering berwudu sebelum menunaikan sholat. "Meski hanya comberan, tapi karena bekas orang suci maka memiliki khasiat," ujarnya.

Setelah peristiwa itu, nasib Nyi Klumpuk berubah drastis. Hanya dari usaha mengumpulkan kayu jati, wanita jujur itu bisa kaya raya.

Rute untuk mendatangi lokasi melalui Jalan Anyar di samping LP Kedungpane. Terus ke arah barat sejauh sekitar empat kilometer hingga pertigaan Gondorio. Kemudian belok kiri masuk perkampungan. Anda bisa menitipkan kendaraan kepada warga sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri persawahan dan mendaki bukit. ***


Tag: opojal-starone-1, legenda Semarang, Sendang Srendeng, Ngaliyan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat