Legenda Semarang: Sendangguwo dan Kalicari 4

Senin, 21 Jun '10 00:59

BARANGKALI ini cuma gugon tuhon. Gara-gara ulah Demang Kalicari yang suka harta, rakyat mengalami penderitaan turun temurun. Penguasa tamak itu mencuri kenong (perangkat gamelan) milik Nyai Purut yang terbuat dari emas.

Namun upaya tersebut dipergoki pemiliknya. Akibatnya, sosok lelembut yang mbahurekso di gua tersebut mengutuk gadis Dukuh Kalicari memiliki mata rembes (seperti belum mandi-red) Selain itu pemuda Sendangguwo juga pamali merajut kasih dengan gadis Kalicari. "Jika sampai menikah, pasti rumah tangganya berantakan," ujar Ny Pujiati, warga RT 11/ RW 02. Kisah Nyi Purut itu sudah melegenda selama ratusan tahun.

Pantangan ini masih diyakini sebagian warga. "Beberapa waktu lalu ada pemuda yang akan menikah dengan gadis Kalicari. Namun batal karena orang tua calon mempelai pria takut ada kejadian," jelasnya.

Kutukan Nyai Purut terhadap warga Kalicari bertalian dengan sejarah kelurahan di Kecamatan Tembalang itu. Menurut Sastro Rohman, warga RT 05/RW 09, jaman dahulu di kampung tersebut terdapat dua buah sendang dan guwo (gua). Bekas sendang telah diuruk dan didirikan sekolah, sedang bekas gua dijadikan semacam petilasan.

Pinjam Gamelan
Konon gua yang berada di RT 07/RW 09 ini dulunya ditunggui sosok gaib, Nyai Purut. Beberapa warga mengatakan nama asli Nyai Purut, Fatimah. Perempuan berwajah cantik ini memiliki koleksi gamelan terbuat dari emas. Perangkat musik ini disimpan di dalam gua.

"Katanya kalau ada warga yang ingin nanggap wayang untuk hajatan mantu, bisa meminjam gamelan kepada Nyai Purut," jelas pria kelahiran 31 Desember 1924 ini.

Dengan kesaktiannya Nyai Purut akan mengantar gamelan itu ke arena hajatan. Setelah selesai pentas, gamelan juga akan pulang dengan sendirinya. Adanya gamelan yang terbuat dari emas itu membuat Demang Dukuh Kalicari ingin memilikinya. Dia bersiasat untuk mencuri harta pusaka itu.

Pada suatu hajatan, Ki Demang menukar kenong emas dengan yang imitasi. " Akibatnya Nyai Purut marah," jelas anak buah Supriyadi saat aktif di tentara PETA ini.
Nyai Purut mengutuk warga Kalicari menjadi bertampang rembes. Selain itu, pemuda Sendangguwo dilarang menjalin jodoh dengan gadis dari Dukuh Kalicari.

Setelah peristiwa itu, gamelan emas tak pernah lagi digunakan warga. Bahkan gua akhirnya tertutup. Nyai Purut juga tak jelas ke mana rimbanya.

Kini bekas gua yang berada di atas tanggul sungai itu dipenuhi Pohon Bolu berukuran raksasa. Di area situs sebelah barat terdapat artefak lumpang batu yang konon berusia ratusan tahun. Sedangkan bekas pintu gua berada di sebelah selatan, berhadapan dengan halaman belakang rumah Cahyono.

Penunggu Marah
Meski tidak terdapat makam, petilasan tersebut sering dikunjungi orang untuk nyadran atau suranan. Konon, tempat tersebut dijaga beberapa ekor harimau gaib peliharaan Nyai Purut. Aroma wingit terpancar dari Pohon Bolu berusia ratusan tahun. Pohon yang memiliki buah berwarna kuning dengan seukuran biji kopi ini dihuni ratusan tokek. Sesekali, binatang mirip cicak ini mengeluarkan suara khas yang membuat bulu kuduk merinding.

Menurut warga, tempat tersebut biasa digunakan anak-anak untuk bermain. Penunggu petilasan tidak pernah menganggu, asalkan pengunjung tidak melakukan perbuatan neka-neka. "Pernah ada anak yang kencing di atas lumpang, pulangnya langsung sakit. Ternyata karena penunggu petilasan ini marah," jelas Sastro Rohman.

Tokoh masyarakat Sujiyan mengatakan, legenda itu merupakan kisah yang perlu dilestarikan. "Soal benar tidaknya, ya namanya juga legenda sehingga belum tentu benar. Buktinya gadis-gadis Kalicari sekarang ayu-ayu, tidak rembes," ujarnya.

Namun dia mengingatkan ada makna yang terkandung di balik legenda tersebut. "Hikmahnya, tidak boleh tamak terhadap harta. Apalagi seorang penguasa, jangan mencuri atau korupsi karena akan membuat rakyat menderita," ujarnya serius.

Dengan bijak pria itu mencoba menafsirkan makna kisah tersebut. Adanya gamelan emas yang bisa datang sendiri ke rumah orang hajatan merupakan kiasan, daerah tersebut dulunya makmur. Namun akibat penguasa yang loba, kemakmuran menjadi musnah dan berganti penderitaan. Mengenai nasib Demang Kalicari, setelah meninggal jasadnya dikubur di Dukuh Demangan, di kelurahan tersebut. ***


Tag: opojal-starone-1, legenda Semarang, sendangguwo, kalicari

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Ahmed 0 0
Punya legenda daerah Lamper apa tidak Mas?
Numpang Rame 0 0
Belum ada Mas. Punya info legenda di daerah itu?
Pernah sih bikin tulisan tentang makam ngaglik di Jalan jeruk, tetapi nggak bagus karena nggak ketemu narasumber yang bisa menjelaskan secara tuntas. Eniwei, legenda makam ngaglik kapan-kapan aku posting, deh
nonowaewis 0 0
Legenda Pendrikan iku koyo piye yo?
Numpang Rame 0 0
nonowaewis: lha kuwi. aku yo lagi nggolek. nek nduwe infone njaluk disharing

Silahkan login untuk memberikan pendapat