Tergenang, Tapi Saya Masih Suka Melewatinya 12
Senin, 7 Jun '10 19:31
Setiap Sabtu dan Senin, saya selalu pergi ke kampus Wearnes di kawasan Pedurungan yang dari tempat saya Indraprasta makan waktu kira-kira 20 menitan dengan sepeda motor. Saya suka malas jika harus melewati jalur utama dari Tugu Muda sampai Pedurungan, karena terlalu ramai dan kadang banyak pemeriksaan karena kadang pakai helm tidak standard. Sehingga saya selalu memilih jalan lewat Pemuda-Pattimura dan sambung sampai Arteri Soekarno-Hatta yang saya sebut 'jalan belakang'.
Tapi, setiap saya melewati perempatan Hotel Pattimura, selalu disambut dengan jalanan yang berlubang dalam, genangan air yang tidak surut-surut dan karena begitu dalamnya genangan hingga kendaraan harus ekstra hati-hati ketika melewati perempatan ini. Tak terbayangkan jika hujan turun dengan derasnya. Dipastikan kawasan ini akan jadi kolam raksasa yang siap menjebak kendaraan yang tak waspada, terlebih lubang-lubangnya sudah sangat dalam. Sayapun sempat nyaris terjebak dalam 'perangkap maut' perempatan Pattimura itu. Ah, sungguh tidak menyenangkan. Tapi apa mau dikata...saya suka melintas jalanan itu.
Lantas apabila saya kembali dari Majapahit menuju Indraprasta, sayapun akhirnya memilih belok kiri bila sampai ke perempatan Pattimura. Sisi kirinya sangat parah tergenang sehingga saya ambil jalan alternatif. Yah, di MT Haryonopun ada genangan-genangan. Perempatan Sugiyonopun sama...padahal, jalan sudah ditinggikan, tapi heran masih saja air merembes. Yah, rob itu masalahnya.
Memang tidak semua jalanan Semarang ini saya hafal, mengingat baru setahun seperempat saya menetap dikota ini. Tetapi saya dapatkan gambaran umum yang sejatinya sangat klasik di kota-kota besar....masalah drainase yang tidak baik. Terlebih Semarang, khususnya kota Bawah jika dilihat dari Gombel, nampak seperti Belanda. Air laut nampak lebih tinggi dari daratannya. Kemudian diperparah lagi dengan kian dalamnya banjir pasang laut yang melanda Semarang, lebih-lebih kawasan utara serta kota lama dan dikhawatirkan jika tak tercegah akan merembes hingga Tugu Muda.
Kendatipun wilayah antara Pemuda sampai Pattimura ini suka dilanda banjir, baik karena hujan maupun rob, entah saya masih suka melewatinya. Meski kesannya ribet karena lewat pintu belakang. Seharusnya walikota Semarang yang baru dipilih, dengan akronim MARHEN sewajibnya menangani permasalahan klasik yang terus menerus mengganggu, bahkan kian memperburuk wajah Kota Semarang. Bagaimana seharusnya rob ini bisa dikendalikan, dan saluran drainase yang baik sangat dibutuhkan bagi kota yang lebih rendah dari laut ini. Tentu dengan kesadaran masyarakat kota pula untuk tidak lagi membuang sampah didalam saluran drainase. Tapi...apa bisa secepat membalik telapak tangan? Sosialisasi sangat dibutuhkan, khususnya untuk masalah di kawasan Semarang Bawah ini.
Apabila masalah rob dan banjir bisa dikendalikan, percaya dan optimis saja saya akan terus melewati jalur belakang ini tanpa khawatir lagi terjebak genangan air.
*Ini tulisan pertama saya di opojal.com, semoga berkenan karena ini sentilan pemikiran saya tentang keadaan semarang saat ini*
Bambang Priantono
7 Juni 2010
foto dipinjam dari sini
Tag: Semarang, opini, celotehan, opojal-starone-1
Terkait:
-
Drs. Kariadi
Selasa, 13 Jul '10 10:39 -
Becak Semarangan
Senin, 12 Jul '10 14:48 -
Pengumuman Hasil Seleksi PPD Reguler 2010 Kota Semarang
Selasa, 6 Jul '10 10:01

Komentar:
Aku juga pendatang di semarang ini, kurang lebih baru 2 tahun. Kalo spt ini terus, kayaknya harus mulai nabung dr sekarang buat beli perahu, sapa tahu nanti semarang utara jadi kayak venice di itali (koyok tau ngerti wae hehe-tolong koreksi jika salah) yg jalannya jadi sungai dan angkutan kotanya adalah perahu. waa (ngimpi-mode on)bisa jadi pengusaha angkutan nih...
perempatan jl imam bonjol-hotel oewa asia itu juga sekarang parah...sudah dipaving tapi masih rusak juga...
Venice van Java ya seharusnya kena air pasang.
Kita tunggu realisasi janji walikota baru kita.
Silahkan login untuk memberikan pendapat