Menyongsong Hari Pendidikan Nasional 2010 1

Sabtu, 1 Mei '10 22:31

Guru dalam pemahaman orang- orang dulu adalah orang yang bisa dan harus digugu dan ditiru. Digugu piwulangnya, perkataannya, nasehatnya dan Ditiru perbuatanya, tindak tanduknya, cara berfikirnya, ketegasannya dan segala sesuatu yang dapat terlihat dari perwujudan dan penampilannya yang membuat para murid merasa kagum, terpesona dan bangga karena telah menjadi muridnya.

Memang dalam kenyataannya Guru jaman dulu harus memiliki dedeg yang gagah, berwibawa, setiap perkataan dan perbuatannya menunjukkan kesan seorang yang terdidik dengan baik. Jaman dulu anak-anak yang pinter pasti akan mendapat kesempatan pertama untuk masuk ke sekolah guru dengan bea siswa. Mereka akan masuk di sekolah berasrama yang akan memberikan standart mutu yang sama untuk semua murid. Calon guru yang asalnya dari pelosok pedesaan harus mampu menyesuaikan diri dalam segala hal dengan teman2nya yang berasal dari kota, termasuk dalam cara berbusana, berbahasa dan pergaulan hidup sehari-hari. Akan terlihat sosok seorang guru berbeda dari orang kebanyakan. Dan penghargaan masyarakat terhadap mereka sanghat tinggi sebab hanya anak yang pandai yang bisa masuk ke sekolah guru.

Saat ini profesi guru bukan merupakan profesi yang didambakan, apalagi oleh anak-anak di perkotaan, masuk ke sekolah Guru atau menjadi sarjana pendidikan itu hanya karena terpaksa sebab tidak diterima di perguruan yang sesuai dengan dambaannya. Yang kuliah di IKIP saat ini hanyalah anak-anak pinggiran saja yang nilainya pas-pasan untuk bisa masuk Fakultas favorit seperti kedokteran, Tehnik dan Ekonomi.

Sebagai seorang pendidik para Guru yang berkewajiban untuk mendidik para murid agar menjadi cerdas dan berwawasan luas ternyata banyak yang gagal melaksanakan tugasnya tersebut. Banyak guru yang mengajar sesuai dengan kemauannya sendiri tanpa mau memahami dan mengerti keadaan para murid yang sangat kompleks. Kesalahan mendasar ini akan menimbulkan kesalahan baru yang akhirnya menyebabkan gagalnya sebuah proses belajar mengajar. Belum lagi kemampuan yang kurang, tidak adanya persiapan saat akan mengajar dan rendahnya pengetahuan komunikasi yang efektif.

Bagi anak-anak yang cerdas dan tekun kelemahan guru mungkin masih dapat mereka atasi dengan mencari tambahan pelajaran di tempat kursus atau les. Bagi anak-anak yang memiliki kesulitan dalam bidang-bidang tertentu mendapatkan Guru seperti ini adalah mala petaka. Yang lebih celaka lagi kalau sanga guru memberikan cap Bodoh pada anak tersebut, padahal jika metode mengajar dirubah sedikit anak-anak akan dapat menerima dengan lebih mudah, dengan memakai alat peraga misalnya.

Banyak yang menganggap guru hanyalah sebuah profesi untuk mencari peng- hasilan, sehingga banyak guru yang tidak perduli dengan kesulitan dan masalah yang dihadapi para murid dalam menyerap dan menerima pelajaran yang mereka berikan. Mereka hanya akan berusaha untuk menyelesaikan tugas yang menjadi beban mereka, jika ada murid yang ketinggalan justru mendapat dampratan karena dicap malas., bahkan kalau perlu memberikan hukuman yang berat kepada muridnya. Type guru seperti ini menganggap bahwa sekolah adalah tempat dia mengajar, bukan menganggap bahwa sekolah adalah tempat para murid belajar.

JIka guru berfikir bahwa sekolah adalah tempat mereka mengajar, maka mereka hanya akan berpikir murid-murid adalah merupakan Obyek yang harus diberi pelajaran, mereka akan menuntut terlalu banyak kepada murid-murid untuk dapat memenuhi standart yang sudah ditetapkan sekolah, kalau murid tidak mampu mencapai berarti muridnya Bodoh. Guru type seperti ini cenderung egois, mudah memberikan hukuman dan kaku.

Guru yang dalam menjalankan profesinya memahami bahwa sekolah adalah tempat belajar para murid, akan memperhatikan masing-masing muridnya sesuai dengan kemampuan dan karakternya. Bahwa kemampuan setiap murid tidak sama dan ketertarikan murid untuk suatu pelajaran juga tidak sama. Guru akan lebih dekat dengan murid, guru bersedia memberikan perhatian kepada murid yang membutuhkan bimbingan. Yang jadi masalah dengan jumlah murid yang terlalu banyak hal ini akan sulit dilakukan oleh para Guru karena waktu yang mereka miliki terbatas.

Yang lebih menyedihkan adalah jika anak kita bukan termasuk anak cerdas, bahkan mungkin memiliki kebutuhan khusus, maka pendidikannya akan menjadi sebuah masalah yang sangat besar. Masuk sekolah umum ditolak, masuk di sekolah khusus tidak mendapatkan tempat. Terus sekolah dimana dong?.

 

 


Tag: pendidikan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maknyos 0 0
home schooling?

Silahkan login untuk memberikan pendapat