Mengenang GOR Simpang Lima 11
Jumat, 9 Apr '10 16:05
Sebenarnya tulisan saya sebagian copas dari tulisan saya di sini, saya copas ke sini karena saya pikir, hal semacam ini menjadi pelajaran buat para pemegang mandat dari rakyat Semarang untuk mengatur kota kita tercinta [meskipun sdh tidak pegang KTP Semarang tetap tidak bisa melepaskan kecintaan saya terhadap Semarang].
==========
Buat orang-orang yang hidup di era 70an hingga 80an, mengalami juga apa yang pernah dirasakan oleh ayah atau kakek-neneknya. Yakni kehilangan gedung yang cukup membawa banyak nostalgia yakni GOR Simpang Lima.
Letaknya cukup strategis yakni di Simpang Lima, daerah pusat kota Semarang yang menjadi pengganti dari alun-alun Semarang. Disebelah barat GOR Simpang Lima, terdapat Masjid Baiturrahman dan disebelah timur ada Wisma Pancasila yang akhirnya pun lenyap dan berubah wajah menjadi Plasa Simpang Lima, pertokoan berlantai 7.
Sudah tak terhitung berapa event yang terselenggara di tempat ini, mulai dari olah raga hingga konser musik. Mulai dari tingkat nasional hingga lokal, bahkan tingkat sekolahan. Karena saya sendiri pernah ikut ekstra kurikuler bulutangkis sewaktu SMA dulu, dan latihannya tidak tanggung-tanggung yakni di GOR Simpang Lima!.
Di tempat ini pula, Ahmad Albar mengalami dua peristiwa yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan yakni, saat rencana konsernya di tempat ini dilarang oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu (saya lupa apakah Ismail atau Suparjo Rustam) karena dianggap tidak sesuai dengan budaya Jawa Tengah. Dan yang kedua, kebangkitan God Bless di era 80an dimulai dengan konser tur Jawa Bali yang kota pertamanya yakni Semarang. Dengan promotor Log Zelebour, God Bless pada konser itu berusaha mengangkat kembali namanya dengan membawakan lagu-lagu Deep Purple. Konsernya sendiri diawali Jaguar dengan vokalisnya almarhun Miki Jaguar dengan membawakan lagu-lagu Rolling Stones, dan dilanjutkan El Pamas, grup dari kota kecil yakni Pandaan (Jawa Timur) yang dimotori Toto Tewel pada gitar dan Eky Lamoh sebagai vokalis. El Pamas saat itu mengusung lagu-lagu Led Zeppelin.
Sedangkan event lokal yang cukup membawa banyak nostalgia bagi anak muda Semarang pada waktu itu adalah Festival Band antar SMA. Promotornya sekelompok anak muda yang cukup terkenal di Semarang yakni SEC. Festival ini benar-benar menjadi barometer musik di Semarang pada saat itu. Favorit juara pada tidak pernah beranjak dari SMA Loyola, SMA 1, SMA 3. Tiga sekolah favorit di Semarang itu seolah mendapat giliran juara.
Sayang, semua itu lenyap di akhir 80an. Saat GOR Simpang Lima ditukar guling dengan Mal Citraland dan Hotel Ciputra. Dan sebagai gantinya, pengembang membangun GOR Jatidiri di kawasan Karang rejo. Alasan yang dipakai pada saat itu, yakni jika ada kegiatan besar di GOR Simpang Lima, mengakibatkan kemacetan di kawasan Simpang Lima. Padahal kenyataan sekarang, dengan adanya Mal Citraland dan Hotel Ciputra, kawasan Simpang Lima dan jalan Anggrek yang letaknya di belakang Mal Citraland, mengalami kemacetan yang tiada pernah berhenti. Jadi kalau dulu macet jika ada kegiatan besar, sedangkan sekarang setiap hari macet, karena tempat parkir di Mal itu memang sangat terbatas.
Setelah GOR Simpang Lima menjadi korban, sepertinya para investor tidak berhenti melakukan perburuan. Salah satu yang pernah diburu yakni Kampus Undip Pleburan dan STM Pembangunan di Simpang Lima. Beruntung Kampus Undip Pleburan akhirnya terselamatkan, dan sekarang tinggal STM Pembangunan yang masih berjuang agar tidak punah dijarah investor.
Pak Gub, Pak Wali, mosok masih kurang sih .....
Tag: GOR Simpang Lima, Simpang Lima, GOD BLESS, Ahmad Albar
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maknyos: Jos Gandhos
-
lakone: Lheb Godhek
-
Ahmed: Sip Tenan
-
LeGo: Sip Tenan
-
bontotrepot: Jos Gandhos
-
endahyellow: Sip Tenan
-
mbakndut: Jos Gandhos

Komentar:
drg lahir,tp pernah dicritane pak-ku....
dui untung p: Video Game? Posisinya nek ora salah di sisi sebelah timur yo mas?
cah kaliwiru: GOR Simpang Lima memang membawa kenangan.
Messagenya jelas...HATI-HATI SAMA PEJABAT DI SEMARANG YANG SUKA MENUKARGULING ASSET PEMDA KE SWASTA.
Ini kejadian kl nggak salah akhir 80an. Siapa ya Walikotanya saat itu? Iman Suparto bukan ya?
Silahkan login untuk memberikan pendapat