Nguri-Nguri Bahasa Jawa? 5
Selasa, 16 Feb '10 22:42
Orang Jawa memang paling pinter membuat peri bahasa, hal ini tentu saja karena bahasa Jawa sendiri merupakan Bahasa yang sangat kaya dengan perbendaharaan kata, sehingga untuk sebuah kata, kita bisa mencari padanannya sampai lebih dari 3 - 5 arti yang sama tergantung dari pemakaiannya.
Kata makan dalam Bahasa Jawa bisa berarti: dhahar, maem, mangan, nguntal, mbadog, nyomak-nyamuk, nggayemi dan entah apalagi. Dalam Bahasa Jawa ada perbedaan penggunaan kata: makan untuk orang tua dengan kata makan untuk orang yang kurang dihormati serta makan untuk binatang berbeda sebutannya. Sementara dalam Bahasa Indonesia pemakian kata makan untuk manusia sama dengan makan untuk binatang, tidak ada bedanya.
Orang Jawa dikenal dengan kehalusan Budi Bahasanya, bisa dimengerti dari adanya perbendaharaan kata yang bertingkat-tingkat pemakaiannya, tidak bisa disamakan antara yang halus dan kasar, Seperti pemisahan kasta dalam Agama Hindu. Kehalusan Bahasa juga dipengaruhi oleh suara dan intonasinya pada saat berbicara, cara berkomunikasi seorang bangsawan sangat berbeda dengan tukang becak, misalnya.
Untuk seorang Bangsawan atau seseorang yang terbiasa dengan komunikasi secara halus yang mengutamakan unggah-ungguh dan tata krama, jarang terjadi yang namanya pertengkaran, sebab untuk memberitahukan kesalahan seseorang tidak perlu dengan menceploskan secara langsung. Cukup dengan diulati peteng atau disindir sudah cukup. Oleh karena itu orang Jawa sangat memperhatikan situasi dan kondisi jika sedang bersosialisasi dengan orang lain, lebih-lebih jika dengan orang yang dipandang lebih tua atau terhormat. Bagi orang jawa ditunjukan kesalahannya secara terang-terangan memang bisa membuat malu, tapi bukan berarti sebuah aib. Sebab jika sudah tidak ada yang bersedia menunjukan kesalahannya baru itu sebuah pertanda kalau seseorang sudah tidak dianggap ada, dijarno wae! wong ndableg!
Saat ini anak-anak sering mengeluh dengan pelajaran Bahasa Jawa, mereka menganggap Bahasa Jawa itu susah dan menyulitkan, kecintaan akan kekayaan Bahasa yang demikian indah dan adi Luhung tidak dimiliki oleh anak cucu kita, mereka lebih senang memakai Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dibanding Bahasa Jawa. Tidak heran kalau Bahasa Jawa lebih disepelekan sekaligus ditakuti dibanding Bahasa Inggris, dan ternyata nilai Bahasa Inggris biasanya lebih bagus dibanding nilai Bahasa Jawa, LHO......
Entah ada hubungannya atau tidak anak-anak sekarang cenderung lebih berani, lebih ndableg dan lebih kurang ajar, ada beberapa orang yang mengatakan karena tidak adanya pelajaran budi pekerti, atau jangan-jangan karena sudah tidak diberikan pelajaran Bahasa Jawa yang sangat menghargai unggah-ungguh dan tata kerama?. Dulu waktu kita kecil berbicara dengan Bapak/Ibu bahkan Simbah - Simbah mesti memakai kromo inggil, dan yang namanya berbahasa kromo mesti harus santun dan tanpa mengeluarkan kata-kata keras, bahkan kalau yang Bapaknya kereng mana berani berbicara kepadanya sambil menatap wajahnya wah.... Bisa disantlap kita.
Bahasa sebagai sarana berkomunikasi haruslah mampu menciptakan suasana yang menyenangkan pada kedua belah pihak, di jaman demokrasi ini kesetaraan memang menjadi sebuah kemestian. Bahasa Jawa terutama kromo Inggil mungkin tidak mampu menjawab tantangan ini, dimana semua orang menuntut persamaan hak. Dan yang lebih memprihatinkan Bahasa Jawa cenderung hanya dipakai untuk kegiatan yang bersifat seremonial, seperti dalam protokoler upacara adat. Dan yang dipakai adalah Bahasa Jawa yang berupa hafalan, dan sukar untuk dipahami maksudnya apa. Mungkin hal ini juga yang menjadikan keengganan kita untuk nguri-nguri Bahasa Jawa, disamping karena tidak gaul pemakaiannya juga sangat terbatas.
Yang lebih sulit lagi saat ini adalah mencari tempat les untuk pelajaran Bahasa Jawa, pertama-tama karena Bahasa Jawa memang dianggap tidak penting lagi, hanya untuk melengkapi kurikulum saja sehingga Guru yang menguasai bahasa Jawa juga tidak banyak, Jadi jangan heran kalau 15 tahun lagi Orang Jawa Harus Belajar Bahasa Jawa kepada Orang Amerika atau kepada orang Belanda.
Blaik tenan......
foto di pinjam dari sini
Tag: Bahasa Jawa Penting atau PENTING
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maknyos: Lheb Godhek
-
nonowaewis: Lheb Godhek
-
aLie: Lheb Godhek
-
endahyellow: Sip Tenan

Komentar:
Geneya kudu mengkono? Sebab, saben aksara jawa sing ora nganggo sandhangan apa-apa, kudune ditransliterasekake dadi "a". "O" kuwi kanggo aksara Jawa sing nganggo sandhangan (taling tarung, yen ora kliru).
Alhamdulillah sudah ada yang mengkoreksi nama dari situs Opojal, harus diakui kalau namanya memang secara harafiah salah. Tapi kesalahan dalam penggunaan Bahasa Jawa memang sudah keterlaluan besarnya, sehingga kita sebagai orang Jawa sendiri sampai tidak tahu kalau itu salah.
Opojal mestinya memang harus ditulis Apajal. Yang jadi masalah kalau ditulis Apajal justru tidak akan dibaca Opojal, tetapi akan dibaca Apajal. Kalau sudah begini terus piejal?.
Menurut guru Bahasa Jawa dulu, untuk membedakan penulisan jawa ke tulisan latin memang ada rumusnya: kalau suku kata yang ditambahai akhiran ne dan membacanya berubah menjadi konsonan A, maka tulisannya adalah A. contoh yang paling gampang ya kata lara + ne menjadi larane yang artinya sakit. Berbeda dengan loro + ne menjadi lorone yang berarti dua.
Kembali ke Opo dan Apa, mungkin memang agak sedikit membingungkan, sebab dalam bahasa sehari-hari kita bisa saja memaki Apane atau Opone dan kedua kata tersebut artinya sama, akan sedikit kelihatan kalau kita buat Bahasa Kromonya, akan menjadi Menapa dan pasti bukan menjadi Menopo.
Sekarang masalah Nguri-nguri Bahasa Jawa, harapannya kita masih bisa memakai Bahasa Jawa dengan baik dan benar dan mengangkat Bahasa Jawa menjadi Bahasa yang bermanfaat dan dihormati dalam pergaulan modern. Tidak ada salahnya kalau kita memulai dengan kesalahan, selama tujuannya untuk mendapatkan manfaat. Monggo….
NB: dari tulisan " Genoyo kudu Mengkono?", kata Mengkono, menurut anda yang betul Mangkana, Mangkono atau ngono, ngana...... ?
Silahkan login untuk memberikan pendapat