Mengapa disebut Semarang 5
Selasa, 16 Feb '10 21:20
Ketika Ki Ageng pandanaran yang kemudian ditugasi sebagai bupati ke kota pinggir pelabuhan ini dari kesultanan Demak menatap banyak pohon asam berjajar di sepanjang jalan namun tumbuh dalam jarak yang berjauhan ( arang = jarang ) jadi asal katanya Asem Arang lalau menjadi Semarang.
Dibangun mesjid di kawasan yang kemudian disebut Kauman karena itu tempat pemerintah dalam bahasa lama Juru Nata sampai sekarang daerah itu masih di sebut Jurnatan persisnya dibelakang pasar Yaik, yang sebelumnya merupakan alun-alun.
Kalau dibanding Jakarta memang lain yang hanya dataran luas Semarang merupakan kota yang berbukit-bukit dan Pemerintah kolonial Belanda cukup pintar daerah atas di kawasan candi dibuat dareah tinggal sehingga orang kaya dan pejabat tinggal di sana sampai sekarang rumah rumah tua itu masih bisa ditemukan Puri Wedari tempat tinggal Pang Dam VII Diponegoro atau Puri Gedeh tempat kediaman gubernur ada di Candi rumah dengan jendela dan pintu yang tinggi tinggi Kota bawah dijadikan daerah pemerintahan dan bisnis juga sekolah.
Di Kota lama yang pinggiran kali mirip Jakarta masih bisa kita temui gedung gedung tua untuk bisnis di sekitar Gereja unik yang kubahnya mirip mesjid orang Semarang menyebutnya Greja Blenduk (mengembung). Gedung Kantor Pos Sekarang di kawasan Yaik itu dulu pusat pemerintahan SMA 3 di Jl Pemuda dulu disebut Jl Bojong dan SMA 1 ada di Jl Mentri Supeno ada di kota bawah.
Di atas bukit Mugas dekat kuburan yang besar Bergota ada tempat peristirahat Ki Ageng Pandanaran yang masih suka diziarahi walau beliau sendir wafat di Klaten.
Dulu ada trem kereta mirip Jakarta Kp Melayu dari statiun di Lawang Sewu ( Pintu Seribu ) depan Tugu Muda hingga daerah Jombang, mungkin kalau kita bisa pertahankan
jadi San Francisco yang setiap orang datang pengin naik kereat kunonya itu.
Pasar Yaik sekarang menyebutnya Pasar Johar, Psar Bulu dekat Tugu Muda dan Pasar Jatingaleh dekat Gombel dibagun dengan arsitek Karlsten sampai sekarang masih bisa dilihat dari tiang tiang yang tinggi udara mengalir bebas untuk kota Semarang yang selalu panas.
Di Ujung Jalan Pemuda masih bisa kiat temukan restoran Oen dengan perabot masih tempo dulu begitu pula cara berpakaian pelayannya berbaju serba putih bersarung dan berpeci ala Melayu.
Katanya dahulu kala orang-orang Chinese bermukim di sekitar Samongan komplex klenteng Sam Po Kong yang diyakini dibangun atas perintah Kaisar Cheng Ho di tepi Kali Banjir Kanal Barat setelah terjadi pemberontakan terjadi pindahan besar-besarkan ke daerah yang sekarang di sebut apa ya? (lupa) di belakang Jl Mataram di sinilah tradisi makan terkenal itu dibuat : lumpia.
Memiliki musik khas Gambang Semarang yang kini menjelang ajal kepunahan dan sempat memilik adat pengantin yang membedakan dengan pusat kebudayaan Solo atau Yogya tapi kini juga sudah tiada rasanya.
Pelabuhan Tanjung Perak di saat saya masih kecil sering diajak ayah mirip Sunda Kelapa banyak kapal kayu bersandar kita bisa berjalan ke tepiannya dengan ujungya Mercusuar
akan selalu menjadi kenangan tersendiri.
Di Lempongsari kata kakakku tertua ( 55 tahun ) dulu pernah tinggal Titik Puspa Mungkin sekarang orang hebat asal Semarang bertambah satu : Thukul Arwana setelah kita tahu Ong Tiong Ham sang raja gula itu ha ha ha ....
Itulah yang kuingat dari kotaku
pernah di posting di http://sepanjanglempong.wordpress.com/2008/09/09/semarang/
foto di pinjam disini
Tag: sejarah semarang, kota semarang
Terkait:
-
Blusuk'an Sore di kota lama Semarang bersama Komunitas Loenpia
Jumat, 7 Okt '11 14:25 -
Drs. Kariadi
Selasa, 13 Jul '10 10:39 -
Sejarah Singkat Kota Semarang
Sabtu, 3 Jul '10 11:10
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
lakone: Jos Gandhos
-
awalsadja: Lheb Godhek
-
bintang: manteb nda
-
nonowaewis: Lheb Godhek
-
cah kalibanteng: manteb nda
-
jatiblack: Lheb Godhek
-
endahyellow: Sip Tenan

Komentar:
Apa karena Semarang saat itu satu-satunya kota yang pohon asemnya paling jarang, atau punya banyak pohon asem tapi buah asemnya yang jarang-jarang?
Jangan-jangan kesalahan sejarah???
Kalau ada ki ageng Made Pandan yang disebut Pandan Aran... lalu jadi Pandanaran...
Jangan-jangan Semarang dari kata Semar Aran, bukankah Sunan Kalijogo dari Demak (semarang saat itu salah satu kadipaten kerajaan demak), menggubah wayang untuk syiar Islam, dan menciptakan tokoh semar?
Atau dari kata Smarghd dari bahasa belanda yang artinya zamrut???
Hmmmm.....????
Ketoke bener "Semar Aran". Terus ilat Jawa ngowahi dhewe dadi "Semaran", terus pungkasane dadi "Semarang".
Kelingan puluhan taun kepungkur. Akeh wong ngarani "lapangan" bae dadi "lapangang"
Silahkan login untuk memberikan pendapat