WAYANG.... WAYANG.... dan WAYANG 2

Minggu, 7 Feb '10 22:01

Banyak anak muda sekarang yang tidak kenal dengan wayang, tokoh-tokohnya dan ceritera-ceriteranya. Padahal wayang adalah salah satu kekayaan budaya kita yang sangat terkenal di manca Negara. Tidak tahu salahnya dimana mengapa kita sering terlupa untuk memelihara kekayaan budaya kita, yang pada akhirnya banyak kekayaan budaya kita sampai dicuri tetangga. Nah kalau sudah ada yang mengaku kekayaan budaya kita menjadi milik Negara lain, baru kita semua ribut kayak kebakaran jenggot.

Ceritera Ramayana atau Maha Bharata mungkin sudah menjadi kekayaan dunia, tapi Wayang Kulit, Wayang Golek, Wayang Suket atau Wayang Wong beserta segala pernak-perniknya jelas merupakan kekayaan budaya milik kita, yang mestinya bisa kita lestarikan dan menjadi kebanggan anak cucu kita. Wayang Kulit sendiri sudah ada di Bumi pertiwi lebih dari setengah millennium, yang diadopsi dari wayang beber. .

Pada dasarnya ceritera wayang bersumber dari 2 epos ceritera besar yang berasal dari India, yaitu Ramayana dan Maha Barata. Begitu besarnya ke2 ceritera tersebut menyebabkan dalam sebuah pementasan wayang yang semalam suntuk hanya bisa dilakonkan petilan dari 2 cerita tersebut. Dalam Ramayana lakon yang terkenal misalnya Sinta Obong atau Anoman Obong. Sementara dalam Epos Maha Baratha lebih banyak lagi lakon yang dapat diangkat seperti Lahirnya Gatot Kaca atau Karno Tanding yang menceritakan Gugurnya Gatot Kaca.

Kata Wayang sendiri sebetulnya berarti bayang - bayang, terutama untuk menggambarkan wayang Kulit, karena penonton akan melihat pertunjukan wayang dari balik geber, yang dengan penerangan blencong gerakan wayang akan menyiratkan bayang-bayang  dari wayang yang dimainkan sang Dalang. Gerakan wayang yang lincah serta cerita yang mengalir dari mulut sang Dalang diiringi suara gamelan yang khas merupakan sebuah pertunjukan yang sangat istimewa.

Yang jadi masalah saat ini mengapa Wayang tidak bisa menjadi tontonan yang digemari masyarakat lagi terutama para generasi muda. Bahkan gedung pertunjukan wayang sudah semakin sedikit dan langka. Untuk melihat wayang juga bukan hal yang menyenangkan, disamping tempatnya tidak bagus, kotor, dan yang terang banyak nyamuknya.

Bisa nggak wayang menjadi ICON dari kota Semarang?. Mestinya harus bisa sebab cerita wayang sangat kaya dan beraneka ragam, dan dalam cerita wayang dapat diselipkan nilai-nilai luhur yang menjadi kekayaan budaya kita. Bayangkan saja di Thailand tontonan banci yang menari-nari saja bisa menjadi daya tarik para turis dan mampu mengeruk devisa yang sangat besar, masak wayang kalah dengan pertunjukan para banci? Gila bener.

Coba bayangkan jika kita punya sebuah tempat yang sangat bagus untuk pertunjukan wayang yang dilengkapi dengan audio yang hebat, tata ruang dan tata panggung yang indah, pemain-pemain yang berkwalitas yang dibalut dengan kostum yang gemerlap. Dan yang nonton juga harus berpakaian rapi tidak boleh makan dan minum selama di dalam gedung pertunjukan, dan ingat dilarang merokok dan pakai sandal jepit.

Kita bisa membuat wayang menjadi sebuah trend setter baru, sebagai pertunjukan budaya yang sangat elok, karcisnya memang harus mahal, dan yang belum bisa melihat wayang kita belum disebut berbudaya. Anak-anak dan remaja dimotivasi untuk paling tidak sekali dalam hidup mereka harus melihat Wayang, sebab sebagai warga Semarang harus kenal wayang. Wayang yang hebat, wayang yang elok dan wayang yang tidak ngisin-isini.


Tag: hiburan semarang, wayang orang, wayang kulit

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

mbah'e 0 0
siapa yang tidak mengenal wayang bagi kalangan tua di tanah jawa ini......tp hal ini berbalik arah dengan generasi muda jangankan dengan filosofinya dengan nama dan bentuknya saja mereka pada tidak tau... hal ini karena para penguasa lebih banyak mengedepankan modernisasi dari pada sebuah kebudayaan yang sarat dengan filosofi, walaupun banyak jargon yang mengambil dari cerita wayang.....
pak sareh 0 0
bravo seni wayang.

Silahkan login untuk memberikan pendapat