Ayo Benahi Pasar Tradisional! 15
Kamis, 28 Jan '10 23:27
Waktu kecil dulu, saat yang paling menyenangkan di hari Minggu adalah diajak Ibu ke Pasar. Walaupun kadang agak kepontal-pontal dalam gandengan Ibu, melihat suasana Pasar yang sibuk dengan berbagai macam jualan dari sayur mayur, buah-buahan sampai dagangan ikan yang segar-segar membuat mata kecilku berbinar-binar. Walaupun buah-buahan waktu itu juga aneka ikan yang dijual tidak selengkap sekarang, bagi seorang anak kecil melihat Pasar seperti melihat sebuah dunia yang serba menggembirakan, enak dan sedap, apalagi jika ibu membelikan semangkuk es dawet, wah rasanya dunia bagai di surga. Rasa es Dawet sepertinya masih menempel sampai berhari-hari lamanya.
Saat ini mengajak anak kecil ke pasar, maksudnya Pasar Tradisional, bisa menjadi bencana, bayangkan suasana pasar yang kotor, jorok, semrawut malah bisa membuat anak kita tidak doyan makan. Belum lagi kalau anak kita sampai tersenggol becak, gendongan atau gerobag yang keluar masuk Pasar, bukan hanya baju yang robek, bisa –bisa kulitnya yang halus tergores dan terluka.
Tidak Bisa Diatur atau Tidak Ada Yang Mau Mengatur
Kesan yang diperoleh saat kita masuk Pasar Tradisional, terutama yang memanfaatkan jalan umum, seperti Pasar Gang Baru atau Pasar Sendowo adalah ketidak teraturan. Para pedagang seenak perutnya memajang dagangannya sampai memenuhi jalan. Jika ada yang berhenti untuk membeli sesuatu dikanan kiri pedagang, maka jalan seperti sudah tertutup, tidak ada tempat lagi bagi para konsumen untuk berjalan dari sisi yang berlawanan, harus mengantri, bergantian, belum lagi kalau ada tukang gendong yang membawa bakul besar mau lewat, wah kalau tidak hati-hati bisa terjadi kecelakaan, jangan berharap mereka minta maaf karena telah menabrak kita, yang ada malah kita yang disalahkan, sudah tahu dia mau lewat kok kita nggak mau minggir, lha mau minggir kemana? Kanan-kiri semua penuh barang dagangan?.
Padahal kalau pedagang itu mau mengatur dagangan agak ke pinggir masih cukup ruang untuk mereka berjualan. Apakah ini sebuah kesengajaan dari para pedagang untuk memperlihatkan kekuasaan area dagang yang mereka miliki, semakin ketengah semakin baik, sebab berarti akan semakin terlihat keberadaan mereka.
Yang lebih mengherankan lagi adanya petugas Pasar yang menarik Retribusi, mereka sama sekali tidak aware akan hal itu, lalu siapakah yang harus mengatur para pedagang tersebut supaya tertib?, yang jelas dan pasti bukan para pembeli.
Bikin Malu dan Tidak Butuh Pembeli
Dulu Pasar Gang Baru merupakan Pasar kebanggan orang Semarang, disana terkenal dengan mutu dagangan yang bagus dan lengkap, mau cari apa saja ada. Saat ini masih merupakan Pasar yang paling diminati Ibu Rumah Tangga karena kelengkapan dan mutu dagangan yang baik, tapi yang bikin kita setengah mati malunya kalau membawa tamu kesana adalah: pembeli sepertinya hanyalah pelengkap penderita, sudah bukan Raja lagi. Bayangkan kita hanya diberi ruang yang sangat sempit untuk berjalan, belum lagi kalau ada becak atau gerobag mau lewat, wah bisa bikin jantungan karena kita bisa tertabrak dan jatuh terjungkal.
Keadaan ini memang bisa bikin malu kita jika mengajak teman kita dari Negara tetangga untuk berbelanja disana, sangat tidak nyaman dan sangat tidak aman. Padahal di Negara-negara tetangga mengunjungi Pasar Tradisional menjadi salah satu tour yang sangat menarik dan sangat dibanggakan. Kesan yang selalu ada adalah para pedagang itu Cuma butuh tempat pamer tapi tidak butuh pembeli
Jangan Sampai Sakit Perut
Ibu Rumah Tangga seperti saya memang tidak bisa lepas dari Pasar Tradisional, selain karena selalu membutuhkan bahan-bahan yang segar, harga di Pasar tradisional memang masih cukup terjangkau. Untuk mensiasatinya ya datang ke Pasar sepagi mungkin untuk menghindari keruwetan yang sangat mengerikan dan terhindar dari ramainya pembeli yang membuat Pasar menjadi sangat tidak nyaman.
Yang perlu juga diingat saat kita ke pasar tradisional dimanapun juga di kota Semarang adalah jangan sampai kita sakit perut atau kepingin pipis, sebab disana tidak ada fasilitasnya, kalaupun ada tempatnya sungguh sangat mengerikan dan membuat bulu kuduk merinding.
Bagaimana kita bisa meramaikan Pasar tradisional menjadi tempat yang nyaman untuk berbelanja bagi para Ibu rumah tangga, walaupun tidak bisa senyaman Super Market, alangkah bahagianya para Ibu Rumah tangga jika bisa ke Pasar tradisonal yang ramah lingkungan, ramah kepada para pelanggan dengan memberikan ruang yang cukup untuk para pembeli memilih dagangan.
Ayo benahi Pasar Tradisional!!!
foto dipinjam dari sini
Tag: pasar tradisional semarang
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maknyos: Lheb Godhek
-
yuliananto: Jos Gandhos
-
ToysWorld: Lheb Godhek
-
cendol: Jos Gandhos
-
lakone: Jos Gandhos
-
jatiblack: Jos Gandhos
-
endahyellow: Sip Tenan

Komentar:
sukses semarangku
owner www.majumapan.com
sayang kl bangunan lama dipugar
mungkin salah satu penyebabnya krn jumlah penduduk yg makin bertambah...
jd pasar makin penuh dgn penjual&pembeli...
padahal area pasar g bertambah luas, yg ada mlh berkurang krn digusur....
betul sekali malahan kalau saya melihat itu bukan tempat berjualan tapi tempat berkumpunny sampah dan penyakit ditambah dengan kelaikuan para pedagang yang sak enag jidate nag dodol mentang mentang mbayar retribusi
Kalo mau nembak pasar ya langsungs aja: Pasar Johar, Pasar mBulu, Pasar Dargo, yang semuanya sekarang nyaris almarhum alias nggak nyaman. Pasar ndargo dan mbulu bahkan lebih mirip rusun daripada pasar. Banyak pemukiman kumuh di dalam pasarnya.
Dan menurut saya sudah nggak saatnya ngomong pasar tradisional semata hal-hal romantis seperti jaman dulu, es dawet dan mbok gendong.
menurut saya pasar itu nggak boleh diterminologikan sebagai medern dan tradisional. Yang seharusnya dikemukakan adalah pasar yang fair, alias jaminan terhadap semua pihak untuk dapat berusaha (jualan) dimanapun dengan tertib dan menyenangkan bagi pembeli.
1. para pedagang bisa memiliki modal atas barang dagangannya, tidak sekedar mjd buruh dr pemilik modal.
2. kaum diffabel dan lanjut usia bisa berkarya, mandiri, mencari penghidupan untuk diri dan keluarga, menjadi berarti, belajar & berjuang menjadi besar. mereka tidak pernah diterima di pasar yg sering disebut 'modern' (apanya sih yg modern? apa krna impor? ber-AC? kasirnya pake sensor cenit-cenit? atau karena pegawainya disortir berdasar umur, penampilan, dan warna kulit? ah, kenapa ya kita begitu sukar utk menjadi kaum merdeka, dan bahkan masih suka menjajah diri sendiri dg menganggap yg impor itu pasti modern?).
3. meskipun sebagian pedagang memang kurang ramah, tapi toh sikap mereka masih lebih natural, lebih sbg manusia, drpd senyuman para karyawan yg sekedar memenuhi SOP perusahaan spy mereka tdk dipecat. hayo, mana yg lebih manusiawi?
4. coba sempatkan sejenak berbincang akrab dg pedagang atau sekedar berhenti mendengarkan percakapan mereka, kita akan dapat pelajaran hidup, inspirasi, motivasi, dan cara utk bersyukur.
Menurut saya, kita harus menggunakan sudut pandang positif ketika melihat tempat yg menghidupi buanyak sekali rakyat Indonesia ini. Tidak pada tempatnya jika kita, apalagi yg berwenang utk membantu spy lebih baik, justru menjerumuskan pasar rakyat dg standar yg tidak sesuai dg kebutuhan dan kebudayaan kita yg hal tsb malah bisa membuat pasar rakyat kehilangan ruhnya (mis: terbiasa pakai toilet jongkok kmd dipaksa pakai toilet duduk spy toilet umumnya terlihat lebih bersih, hehehe)
wah mantap untuk sedulur semua yang saya sebut kita satu pandangan untuk membuat semarang dilihat oleh oleh luar menjadi kota yang eksotis dan guyub bagi warganya
ane minta maaf kalau ada salah kata atau salah ucap
Yang dibangun jangan cuma Mall, tapi juga Pasar tradisional atau pasar rakyat atau apapun namanya, diberi fasilitas yang baik, ada Kamar Kecil yang sehat, memadai, diatur lapak-lapaknya, diperbaiki Got-Gotnya, agar jangan sampai ada Ibu-Ibu yang ke Blosok di Got.
Ayo Kangmas di bantu to agar Ibu-Ibu bisa memiliki Pasar Tradisional yang apik, nah kalau minggu bisa antar para Istri belanja dengan Nyaman.
mantaps dah
Silahkan login untuk memberikan pendapat